SOLOBALAPAN.COM - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Patti Djalal, menyatakan pandangannya tentang kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru Pangayunan.
Melalui akun media sosialnya, ia mengaku sulit menerima kesimpulan bahwa Arya Daru tewas karena bunuh diri dan memberikan lima alasan yang dinilainya janggal.
Pertama, Dino mempertanyakan metode bunuh diri yang dipilih dan dilakukan oleh Arya Daru sangat tidak lazim.
"Pertama kali saya mendengar bahwa dia bunuh diri dengan cara lakban, saya mengatakan tidak pernah seumur hidup saya mendengar orang bunuh diri dengan cara lakban. Jadi, saya ini suatu tanda yang besar sekali," kata Dino.
Ia berpendapat, biasanya orang yang bunuh diri memilih cara yang lebih konvensional dan tidak menyakitkan.
Kedua, Dino menyebutkan bahwa Arya Daru akan segera ditugaskan sebagai diplomat di Finlandia, sebuah penempatan idaman bagi banyak diplomat.
Menurut Dino, seorang diplomat yang akan bertugas ke luar negeri biasanya sangat antusias untuk memulai lembaran baru dalam hidup dan karier.
"Jadi, dari segi ini, psikologi ini, tidak cocok sekali dengan psikologi orang yang mengalami depresi, yang mau bunuh diri. Kalau pun dia mengalami masalah pribadi atau pekerjaan di dalam negeri, diplomat yang mau posting (di luar negeri) itu akan merasa, alhamdulillah saya akan meninggalkan semua beban itu di belakang saya karena saya akan posting di tempat yang indah di luar negeri. Jadi, dari segi itu teori bunuh diri juga tidak masuk akal," ucap Dino.
Ketiga, orang yang berniat bunuh diri umumnya meninggalkan pesan untuk keluarga. Apalagi Arya Daru sangat dekat dengan istri dan anak-anaknya.
"Dan dalam hal ini tidak ada satu pun pesan kematian yang ditinggalkan oleh Arya Daru kepada istri maupun kepada anak-anaknya," ujarnya.
Keempat, telepon seluler milik Arya Daru hilang dan dan hingga saat ini tidak ditemukan.
Dino menilai hal ini juga janggal, sebab orang yang hendak bunuh diri biasanya tidak akan terpisah dari barang-barang pribadi, termasuk ponsel.
Alasan kelima, Dino menyoroti tidak ditemukannya sidik jari orang lain di lokasi, hilangnya ponsel, dan rekaman CCTV yang tidak lengkap.
Ia menduga, kejadian ini merupakan suatu pembunuhan yang direncanakan secara rapi.
”Kelima, bahwasanya sidik jari orang lain tidak ditemukan, bahwasanya HP juga tidak ditemukan, dan juga CCTV rekamannya tidak penuh lengkap, ini juga menimbulkan kesan bahwa ini merupakan suatu pembunuhan yang direncanakan secara rapi,” ujarnya.
Dino berharap kasus ini tidak ditutup dan terus diselidiki oleh kepolisian. Ia yakin polisi masih bisa menemukan bukti-bukti baru untuk mengungkap kematian Arya Daru yang dinilainya sangat tidak wajar. (dam)
Editor : Damianus Bram