Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Saksi Bisu Sejarah, Jembatan Gantung Peninggalan Belanda di Kerjo, Karanganyar Masih Kokoh Hingga Kini

Damianus Bram • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 01:40 WIB
Jembatan gantung peninggalan Belanda yang berada di Kec. Kerjo, Kab. Karanganyar.
Jembatan gantung peninggalan Belanda yang berada di Kec. Kerjo, Kab. Karanganyar.

SOLOBALAPAN.COM - Sebuah jembatan gantung di Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, dipercaya sebagai saksi bisu sejarah peninggalan kolonial Belanda.

Jembatan yang dibangun sekitar tahun 1925-1930 ini tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antardesa, tetapi juga membawa kita menyusuri jejak sejarah panjang.

Menurut Supomo, Ketua RW setempat, fungsi awal jembatan ini adalah sebagai akses bagi tentara Belanda untuk menghubungkan Desa Karangrejo dan Plosorejo.

Informasi ini ia dapatkan dari cerita ayahnya, yang tinggal di sekitar jembatan.

"Sekitar tahun 1925 hingga 1930 ya. Kalau enggak 1928 ya, 1929. Pokoknya di antara itu," ucap Supomo dalam wawancara dengan SoloBalapan.com, Kamis (7/8/2025).

Lebih dari sekadar penghubung, jembatan ini juga pernah dilalui oleh Jenderal TNI Gatot Soebroto, seorang tokoh perjuangan militer yang berjasa dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

Renovasi dan Keaslian yang Terjaga

Jembatan yang dulunya beralas kayu, kini telah diperkuat dengan bordes besi untuk menggantikan material lama yang mudah rapuh.

Meski telah beberapa kali mengalami perbaikan, keaslian bentuk dan nuansa lamanya tetap dipertahankan. Bahkan, dinding jembatan hanya mengalami dua kali pergantian.

"Itu dulu kan lantainya dari papan kayu, cuma kan untuk renovasinya sering. Masalahnya kan kayu itu kan rusaknya tidak bersamaan. Terus akhirnya ganti satu per satu, mana yang rusak kan biasanya seperti itu. Akhirnya dari PTPN, perkebunan karet diganti bordes itu, tapi untuk perbaikan seterusnya diperbaiki oleh warga Sengon. Warga dari wilayah Plosorejo. Karena warga yang sering melewati kan dari sana. Terus dindingnya 2 kali, seingat saya. Untuk yang lainnya kayaknya belum. Masih ori semua itu," jelas Supomo.

Jembatan ini juga pernah menjadi panggung pertunjukan wayang kulit saat awal pengoperasiannya, menambah kekayaan sejarahnya.

Fungsi dan Potensi Jembatan Saat Ini

Saat ini, jembatan gantung tersebut masih aktif digunakan oleh masyarakat sebagai penghubung antara Dusun Bangkle, Dusun Sengon, dan Sitru.

Selain itu, para tentara melakukan napak tilas di sekitar jembatan sebagai bagian dari latihan mereka.

Menurut Supomo, potensi jembatan gantung ini belum sepenuhnya tergarap karena minimnya perhatian dari pemerintah desa dan kelompok sadar wisata (POKDARWIS).

Padahal, lingkungan sekitarnya dihiasi sungai yang jernih dan perbukitan asri, membuatnya berpotensi menjadi taman edukasi sejarah bagi wisatawan.

"Di sebelah kiri jembatan itu, kebun saya terus di bawahnya ada sungai yang di situ tempat yang sering dibuat mandi anak-anak. Anak-anak kecil maupun anak-anak muda bahkan orang tua pun sering datang ke situ untuk mandi. Mandi tuh tujuannya untuk menghibur diri. Berarti kalau sudah menarik orang-orang semacam itu, tempatnya itu bagus kan," ungkap Supomo.

Harapan untuk Pelestarian Lingkungan

Supomo berharap masyarakat lebih memperhatikan pelestarian lingkungan di sekitar jembatan, terutama kebersihan sungai.

Ia juga menyoroti praktik pengambilan ikan dengan cara yang merusak, seperti menggunakan obat atau setrum.

"Kami berharap hal ini menjadi perhatian. Faktanya banyak orang yang membuang sampah di sungai. Lalu ada juga masyarakat yang mengambil ikannya dengan cara yang instan, yakni pakai obat atau disetrum. Tolong ini menjadi perhatian agar tumbuh kesadaran masyarakat," pungkas Supomo. (mg intan/dam)

 

Editor : Damianus Bram
#kerjo #karanganyar #jembatan gantung #belanda