SOLOBALAPAN.COM – Gelombang protes terhadap kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kian membesar.
Warga yang tergabung dalam Masyarakat Pati Bersatu tengah bersiap menggelar aksi demo besar-besaran pada Rabu, 13 Agustus 2025.
Tak hanya unjuk rasa biasa, mereka juga membuka donasi unik berupa telur dan tomat busuk.
“Hadiah” itu rencananya akan diberikan langsung kepada Bupati Pati sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang mereka anggap “busuk”.
“Ini simbol melawan kebusukan pemerintah daerah yang tak peduli dengan nasib rakyat,” tegas koordinator aksi, Teguh Istiyanto, Minggu (3/8/2025).
Tak hanya telur dan tomat, warga juga menggalang bantuan logistik berupa air mineral, mi instan, rokok, dan bahan makanan lain untuk mendukung aksi yang akan digelar menjelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Kenaikan PBB Sampai 250 Persen Dinilai Mencekik
Protes ini dipicu kebijakan Bupati Pati Sudewo yang menaikkan tarif PBB-P2 hingga 250 persen. Kenaikan ini tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Pati Nomor 17 Tahun 2025, yang merevisi Perbup Nomor 12 Tahun 2024.
“Telah disepakati bersama bahwa kenaikan PBB sekitar ±250 persen karena 14 tahun tidak pernah disesuaikan,” ujar Sudewo dalam pernyataan resmi di laman Humas Kabupaten Pati.
Sudewo mengklaim kebijakan ini untuk mendongkrak pembangunan infrastruktur, termasuk pembenahan RSUD RAA Soewondo.
Ia juga menyebut PBB Pati masih tertinggal dibanding daerah tetangga.
“PBB Kabupaten Pati hanya Rp29 miliar, sementara Jepara Rp75 miliar, Rembang Rp50 miliar, dan Kudus juga Rp50 miliar. Padahal, Pati wilayahnya lebih besar,” jelasnya.
Meski begitu, banyak warga menilai kebijakan ini tidak tepat waktu, mengingat tekanan ekonomi masyarakat yang semakin berat.
Protes dengan Bendera Bajak Laut One Piece
Sebelumnya, pada Minggu (3/8/2025), puluhan warga mengibarkan bendera bajak laut One Piece (Jolly Roger) di bawah bendera Merah Putih di depan Kantor Pemkab Pati.
Aksi simbolik ini menjadi penanda awal perlawanan terhadap kebijakan PBB yang dinilai semena-mena.
“Di bulan Agustus ini, sedihnya kondisi rakyat masih seperti belum merdeka. Kehidupan sehari-hari makin sulit,” ujar Teguh.
Dengan demo besar di depan mata dan dukungan masyarakat yang terus mengalir, tekanan terhadap Bupati Sudewo diprediksi akan semakin kuat menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80. (dam)
Editor : Damianus Bram