SOLOBALAPAN.COM – Roblox, platform game online yang banyak digemari anak-anak, saat ini tengah menjadi sorotan setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melarang anak-anak bermain game ini.
Larangan ini muncul lantaran Roblox dinilai memiliki dampak negatif karena mengandung unsur kekerasan di dalamnya.
Diketahui, Roblox termasuk dalam daftar game populer di kalangan anak-anak.
Menurut Data Statista yang dilansir dari Kompas.com menunjukkan, jumlah pengguna aktif Roblox usia 13 tahun dan di bawahnya mencapai 39,7 juta pengguna per kuartal kedua 2025.
Lantas, Apa itu Roblox?
Dilansir dari JawaPos, Selasa (6/8/2025), Roblox merupakan platform game online yang memungkinkan penggunanya tidak hanya sekadar bermain, tetapi juga membuat game sendiri.
Di Roblox Studio, game yang sudah dibuat dapat dibagikandan dimainkan oleh pengguna lain.
Roblox menyediakan berbagai jenis permainan mulai dari balapan, role-playing, petualangan, memancing, dan sebagainya.
Berbagai jenis permainan ini dapat diakses secara gratis.
Selain itu, pengguna juga bisa berinteraksi dengan pemain lain melalui fitur teman, chat, dan obrolan suara.
Tidak hanya itu, di platform ini juga tersedia fitur berbayar melalui mata uang virtual bernama Robux.
Didirikan oleh David Baszucki dan Erik Cassel pada 2004, Roblox resmi diluncurkan ke publik pada tahun 2006.
Sekarang, Roblox berada di bawah naungan perusahaan Roblox Corporation yang dipimpin oleh David Baszucki.
Salah satu daya tarik Roblox adalah fitur multiplayer yang memungkinkan penggunanya untuk bermain bersama teman secara daring.
Namun, tidak menutup kemungkinan dengan adanya interaksi bebas ini membuka peluang terjadinya penyalahgunaan pihak-pihak tidak bertanggungjawab.
Mengapa Roblox Dilarang oleh Mendikdasmen?
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pelarangan ini sebagai bentuk perlindungan terhadap anak-anak dari potensi bahaya konten digital.
Menurutnya, di dalam game tersebut banyak memuat adegan kekerasan dan kata-kata kasar yang tidak layak untuk usia anak-anak.
“Itu kan banyak kekerasan ya di game itu, kadang-kadang anak-anak tidak memahami bahwa yang mereka lihat itu kan sebenarnya sesuatu yang tidak nyata,” kata Abdul Mu’ti dalam keterangannya.
“Sehingga karena itu kadang-kadang praktik kekerasan yang ada diberbagai game itu, itu memicu kekerasan di kehidupan sehari-hari anak-anak,” imbuhnya. (apw/lz)
Editor : Laila Zakiya