SOLOBALAPAN.COM - Dampak dari kontroversi kehamilan Erika Carlina kini menghantam karier DJ Panda secara telak.
Buntut dari tudingan warganet yang menyebutnya sebagai ayah dari anak yang dikandung Erika, pria bernama asli Giovanni Surya Saputra ini harus menghadapi pembatalan kerja massal dari berbagai pihak.
Tak tanggung-tanggung, setidaknya 14 jadwal manggungnya di berbagai kelab malam dan festival bergengsi dilaporkan telah resmi dibatalkan oleh para penyelenggara acara.
Efek Domino: Daftar 14 Acara yang Dibatalkan
Sejumlah promotor dan manajemen kelab malam besar di Indonesia mengambil sikap tegas dengan membatalkan penampilan DJ Panda untuk menghindari sentimen negatif publik.
Berikut adalah daftar acara dan lokasi yang telah mengumumkan pembatalan:
-
Black Owl, Surabaya
-
Brexit, Jakarta
-
HW Atlas, Bali
-
Hexagon, Banjarmasin
-
Tembak Langit, Batam
-
Cabin, Bogor
-
The Venus, Palembang
-
Angels Wing, Balikpapan
-
Angels Wing, Samarinda
-
Odette, Malang
-
Radar Space
-
Gold Dragon, Bekasi
-
Amavi, Medan
-
Holywings (seluruh outlet)
Selain itu, keterlibatannya di WJP Festival 2025 di Medan juga resmi dicoret dari daftar penampil.
Nathalie Holscher Juga Batalkan Proyek Kolaborasi
Efek negatif ini juga merembet ke rekan kerjanya.
Nathalie Holscher, yang ikut terseret karena video parodi kehamilan bersama DJ Panda, dilaporkan telah membatalkan proyek kolaborasi yang direncanakan.
Langkah ini diyakini diambil untuk menghindari polemik yang lebih besar dan menjaga citranya di mata publik.
Buntut Tudingan Publik
Seluruh pembatalan ini merupakan buntut dari tudingan publik yang viral, yang menyebut DJ Panda sebagai ayah biologis dari anak yang dikandung Erika Carlina.
Meskipun ia telah memberikan bantahan, sentimen negatif dari warganet tampaknya memberikan tekanan besar pada para penyelenggara acara yang memilih untuk membatalkan jadwalnya.
Kekuatan 'Cancel Culture' di Era Digital
Kasus yang menimpa DJ Panda menjadi contoh nyata dari kekuatan 'cancel culture' di era digital.
Tekanan dan sentimen negatif dari publik di media sosial dapat dengan cepat diterjemahkan menjadi konsekuensi profesional dan finansial yang nyata.
Keputusan serempak dari berbagai penyelenggara acara untuk membatalkan jadwalnya menunjukkan betapa rentannya karier seorang figur publik terhadap opini massa saat ini. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo