SOLOBALAPAN.COM – Publik tengah dikejutkan oleh kabar duka dari Garut.
Seorang siswa SMA bernama Priya Nailuredha Thoriq meninggal dunia pada Senin, 14 Juli 2025, dalam kasus yang diduga berkaitan dengan aksi perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Kasus ini mencuat setelah sang ibu, Fuji Lestari, membagikan kisah putranya di Instagram sejak 27 Juni 2025.
Ia menyebut bahwa Priya mengalami bullying secara terus-menerus hingga mentalnya terganggu.
"Awalnya anak saya dituduh melaporkan teman-temannya yang nge-vape di kelas, padahal dia sama sekali tidak melakukan itu," ungkap Fuji, seperti yang dikutip dari unggahan Instagram-nya.
Menurut penuturan Fuji, akibat tudingan itu Priya nyaris dipukuli ramai-ramai oleh teman sekelasnya.
Untungnya ia berhasil melarikan diri ke ruang BK. Sejak saat itu, Priya takut ke sekolah dan akhirnya dinyatakan tidak naik kelas, meski masih diberi opsi melanjutkan ke kelas 11 dengan syarat pindah sekolah.
Namun, pernyataan pihak sekolah justru membantah adanya perundungan.
Kepala Sekolah SMAN 6 Garut, Dadang Mulyadi, menyatakan bahwa penurunan akademis Priya adalah faktor utama yang menyebabkan ia tidak naik kelas.
"Sebenarnya ini bermula karena yang bersangkutan tidak naik kelas. Disebabkan ada 7 nilai mata pelajaran yang tidak tuntas," jelas Dadang.
Wali kelas Priya, Yulia Wulandari, menambahkan bahwa mereka telah berusaha mengatrol nilai-nilai Priya melalui berbagai strategi, namun hasilnya tetap tidak memadai.
Ia juga menyebut, komunikasi dengan orang tua korban cukup intens, bahkan sempat membicarakan soal perubahan perilaku Priya dan urusan asmara anaknya.
"Sering bercerita mengenai kenapa anaknya menjadi berubah semenjak masuk sekolah," ungkap Yulia.
Dilansir dari DetikJabar, dua teman sekolah Priya turut memberikan klarifikasi.
Mereka mengaku sempat terjadi kesalahpahaman terkait siapa yang melaporkan kasus nge-vape di kelas.
"Mereka curiga bahwa korban yang melapor ke guru, karena setelah itu di kelas kita ada razia. Tapi ternyata bukan korban yang melapor," jelas dua siswi tersebut.
Terkait tudingan pengeroyokan, mereka membantah keras.
Menurut mereka, memang sempat terjadi konfrontasi, namun belum sampai tahap kekerasan fisik karena langsung dipisahkan oleh teman lain. Mereka juga menyangkal bahwa Priya pernah dikucilkan.
"Kalau kerja kelompok, kita selalu masukin korban ke daftar. Kalau teater juga kita kasih peran utama," ujarnya.
Kasus ini telah ditangani Polres Garut. Kasat Reskrim AKP Joko Prihatin menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan mendalam atas insiden tersebut.
"Kejadiannya sedang kami lakukan penyelidikan," ungkap Joko.
Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, juga menegaskan bahwa pendampingan PPA sudah dilakukan sejak 3 minggu lalu, namun sayangnya pendampingan lanjutan belum sempat terlaksana karena Priya lebih dulu meninggal.
"Memang masih ada perbedaan pendapat. Pandangan antara pihak keluarga dengan pihak sekolah," kata Putri.
Pihaknya pun telah menghubungi Dinas Pendidikan untuk evaluasi kinerja guru, mengingat meski SMA adalah kewenangan provinsi, namun siswa tetap merupakan anak-anak Garut.
Tagar 'PriyaNailuredhaThoriq' viral dan digaungkan lebih dari 8.000 kali di media sosial sejak hari Senin. (lz)
**Catatan: Bila Anda mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan, jangan ragu untuk melapor ke pihak sekolah, kepolisian, atau layanan perlindungan anak. Bantuan tersedia dan setiap nyawa sangat berharga.
Editor : Laila Zakiya