Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Misteri Rombongan Jubah Putih di Puncak Lawu Terungkap, Perhutani: Bukan Aliran Sesat, tapi Peziarah NU

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 16 Juli 2025 | 02:37 WIB
Viral sekolompok orang berpakaian serba putih lakukan ritual di Gunung Lawu.
Viral sekolompok orang berpakaian serba putih lakukan ritual di Gunung Lawu.

SOLOBALAPAN.COM - Misteri kerumunan orang berpakaian serba putih yang videonya viral di puncak Gunung Lawu akhirnya terungkap.

Pihak Perhutani memastikan bahwa rombongan tersebut bukanlah penganut aliran sesat seperti yang ramai dispekulasikan, melainkan kelompok peziarah tahunan dari Nahdlatul Ulama (NU).

Video berdurasi 12 detik yang diunggah ke TikTok pada Jumat (11/7/2025) itu sempat memicu kontroversi.

Rekaman tersebut menampilkan puluhan pria bersorban dan wanita bermukena putih sedang khusyuk berdoa di area Tugu Hargo Dumilah.

Klarifikasi Perhutani: Peziarah Rutin dari Purwodadi

Baca Juga: Terekam Kamera, Rombongan Putih Gelar Ziarah di Puncak Gunung Lawu Bikin Netizen Salah Paham, Ini Penjelasannya

Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah menelusuri dan menghubungi ketua rombongan tersebut. Diketahui, rombongan yang berjumlah sekitar 100 orang itu berasal dari Desa Sumberbanggi, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Purwodadi, Jawa Tengah.

“Setelah kami hubungi ketua rombongan atas nama Pak Rohmat, beliau menyampaikan bahwa kegiatan tersebut adalah ziarah rutin tahunan untuk menghormati Sunan Gunung Lawu,” jelas Mulyadi, Senin (14/7/2025).

Tradisi Tahunan yang Sudah Berlangsung 14 Kali

Menurut Mulyadi, kegiatan ziarah ini bukanlah hal baru. Ini adalah tradisi yang sudah mereka lakukan selama 14 tahun berturut-turut.

Rombongan tersebut mendaki melalui jalur Cemoro Sewu pada Kamis (10/7/2025) dan bermalam di puncak.

Pada Jumat (11/7/2025), mereka menggelar rangkaian kegiatan spiritual yang berisi doa bersama, pembacaan tawasul, dan diakhiri dengan pelaksanaan Salat Jumat berjemaah di sekitar Tugu Hargo Dumilah.

“Terkait busana serba putih yang menjadi sorotan, itu baru dipakai sesampainya di puncak sebagai simbol kesucian dalam berdoa. Perempuan memakai mukena, laki-laki mengenakan jubah dan sorban putih,” terang Mulyadi.

Imbauan untuk Hormati Kearifan Lokal

Pihak Perhutani berharap penjelasan ini dapat meluruskan kesalahpahaman yang telah berkembang di masyarakat.

Mulyadi mengimbau publik untuk tidak gegabah menuduh suatu kegiatan spiritual sebagai aliran menyimpang tanpa dasar yang jelas, terutama karena aktivitas ziarah memang kerap dilakukan di gunung-gunung Jawa.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tetap dilakukan dengan memperhatikan aspek konservasi dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan,” tutupnya.

Pelajaran dari Viralitas Tanpa Konteks

Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah konten tanpa konteks dapat dengan cepat memicu spekulasi negatif di era digital.

Klarifikasi dari Perhutani mengingatkan pentingnya untuk tidak gegabah dalam menilai suatu kegiatan, terutama yang berkaitan dengan tradisi dan kearifan lokal yang mungkin tidak dipahami semua orang.

Ini adalah pelajaran berharga tentang literasi digital dan pentingnya verifikasi sebelum menyebarkan informasi. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#jubah putih #rombongan #nu #peziarah #perhutani #aliran sesat #Puncak Lawu