SOLOBALAPAN.COM – Media sosial kembali dibuat geger dengan beredarnya video rombongan orang berpakaian serba putih yang mengelilingi Tugu Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu.
Mereka terlihat khusyuk, berjalan perlahan dalam formasi melingkar, membuat netizen bertanya-tanya: apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Viral Ritual Putih, Netizen Heboh
Video berdurasi 23 detik itu pertama kali diunggah oleh akun TikTok @adtyaaidrt.
Dalam keterangannya disebutkan, peristiwa itu terjadi pada Jumat (11/7/2025) sekitar pukul 10.00 hingga 12.30 WIB, dan diduga merupakan ritual spiritual karena bertepatan dengan bulan Suro.
Bulan Suro memang dikenal sebagai bulan sakral bagi masyarakat Jawa. Namun, kemunculan rombongan putih di tengah kabut puncak Lawu tetap saja membuat netizen heboh:
“Ini aliran apa nih?”
“Serem tapi penasaran...”
Komentar seperti itu membanjiri unggahan video dan menyebar luas ke berbagai platform, mulai dari TikTok, Instagram, hingga X (Twitter).
Ini Penjelasan Resmi dari Perhutani
Menanggapi kehebohan tersebut, Perhutani BKPH Lawu Selatan langsung angkat bicara.
Asisten Perhutani, Mulyadi, menegaskan bahwa kegiatan itu bukan sekte atau ajaran sesat, melainkan ziarah spiritual rutin.
“Kegiatan itu digelar sebagai ziarah spiritual, penghormatan kepada Sunan Lawu,” terang Mulyadi.
Ternyata, rombongan tersebut berasal dari Nahdlatul Ulama (NU) Purwodadi dan telah melakukan ziarah ke Gunung Lawu setiap Jumat selama 14 tahun terakhir.
“Mereka datang setiap Jumat untuk berdoa, bertawasul, dan salat Jumat di depan Tugu Triangulasi,” tambah Mulyadi.
Para peserta tidak langsung mengenakan baju putih sejak awal pendakian. Mereka baru memakainya sesampainya di puncak sebagai simbol kesucian dan kekhusyukan ibadah.
“Baju putih dipakai setelah sampai di atas, seperti hendak salat. Jadi ada makna spiritualnya,” jelasnya.
Meski kegiatan tersebut tidak melanggar aturan agama maupun hukum, pihak Perhutani tetap akan mengevaluasi jalur komunikasi dan prosedur perizinan.
“Kami akan memperketat koordinasi agar tidak ada kebingungan atau keresahan di kalangan pendaki dan masyarakat,” tegas Mulyadi.
Polisi: Tidak Ada Unsur Pelanggaran
Kepolisian setempat juga membenarkan adanya aktivitas spiritual tersebut. Mereka menegaskan bahwa tidak ditemukan unsur pelanggaran hukum dalam kegiatan tersebut.
Gunung Lawu memang dikenal sebagai tempat yang sarat nilai spiritual, terlebih di bulan Suro. Banyak orang datang untuk bertapa, berdoa, atau mencari ketenangan batin.
Jadi, jika kamu sempat berpikir ini sekte misterius, sekarang sudah tahu jawabannya.
Di Gunung Lawu, tak semua yang tampak bisa langsung dimaknai. Kadang, dibutuhkan lebih dari sekadar kamera untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. (dam)
Editor : Damianus Bram