SOLOBALAPAN.COM – Hubungan panas antara Elon Musk dan Donald Trump akhirnya meledak menjadi babak baru dalam sejarah politik Amerika Serikat.
Tak tanggung-tanggung, bos Tesla dan SpaceX itu mendeklarasikan pendirian partai baru bernama "America Party" sebagai respons atas kecewanya terhadap kebijakan ekonomi Trump dan sistem dua partai yang dianggapnya merusak demokrasi.
Dilansir dari BBC, Elon Musk menulis di platform X miliknya, “By a factor of 2 to 1, you want a new political party and you shall have it! When it comes to bankrupting our country with waste & graft, we live in a one-party system, not a democracy. Today, the America Party is formed to give you back your freedom.”
[Dengan faktor 2 banding 1, Anda menginginkan partai politik baru dan Anda akan mendapatkannya! Ketika menyangkut kebangkrutan negara kita dengan pemborosan & korupsi, kita hidup dalam sistem satu partai, bukan demokrasi. Hari ini, Partai Amerika dibentuk untuk mengembalikan kebebasan Anda -red]
Langkah ini diumumkan hanya beberapa pekan setelah Elon secara terbuka berseteru dengan Trump dan mundur dari jabatannya di Department of Government Efficiency (Doge) – lembaga yang semula dibentuk Trump untuk memangkas anggaran negara.
Menurut laporan CNN, Musk yang sempat menjadi donatur terbesar kampanye Trump 2024 senilai USD 250 juta, berubah haluan drastis setelah “big beautiful bill” milik Trump disahkan Kongres dan menjadi undang-undang.
Undang-undang ini dinilai akan menambah utang negara lebih dari USD 3 triliun dalam satu dekade, tanpa memberi insentif signifikan pada produk ramah lingkungan seperti kendaraan Tesla.
Kekecewaan itu memicu pernyataan tajam Musk, “When it comes to bankrupting our country with waste & graft, we live in a one-party system, not a democracy,” tulisnya.
[Ketika berbicara tentang membuat negara kita bangkrut karena pemborosan dan korupsi, kita hidup dalam sistem satu partai, bukan demokrasi.]
Ia menegaskan, "America Party" akan fokus pada efisiensi anggaran dan kebebasan rakyat.
Namun, hingga Sabtu lalu, Komisi Pemilu Federal AS (FEC) belum mencatat secara resmi pembentukan partai ini.
Kendati begitu, Musk menyatakan partainya akan mulai berkiprah pada Pemilu Paruh Waktu 2026, mendukung kandidat di beberapa distrik DPR dan Senat sebagai permulaan.
Sebelumnya, Musk sempat mengunggah polling di platform X untuk mengukur antusiasme masyarakat tentang kebutuhan partai baru di AS. Hasilnya, mayoritas mendukung.
Sementara itu, Trump membalas sinis lewat Truth Social: “Elon may get more subsidy than any human being in history, by far. Without subsidies, Elon would probably have to close up shop and head back home to South Africa.”
[Elon mungkin mendapatkan subsidi lebih banyak daripada manusia mana pun dalam sejarah. Tanpa subsidi, Elon mungkin harus menutup usahanya dan kembali ke Afrika Selatan.]
Ia bahkan mengancam akan meninjau ulang kontrak-kontrak pemerintah dengan perusahaan Musk seperti SpaceX dan Starlink.
Meski keduanya berbagi pandangan konservatif dalam isu sosial, perselisihan tajam soal anggaran federal telah memecah hubungan keduanya.
Langkah Musk ini menjadi sinyal nyata kegelisahan politik di kalangan elite, sekaligus tantangan nyata terhadap dominasi Partai Demokrat dan Republik.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa membentuk partai ketiga di AS bukan perkara mudah, seperti yang dialami Ross Perot pada 1992.
Apakah "America Party" benar-benar akan menjadi kekuatan politik baru di Amerika, atau hanya gejolak sesaat dari taipan eksentrik? (lz)
Editor : Laila Zakiya