SOLOBALAPAN.COM - Di tengah sorotan publik terhadap istrinya, Agustina Hastarini, Menkop UMKM Maman Abdurrahman mengambil langkah proaktif dengan mendatangi Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jumat (4/7/2025) sore.
Kunjungan ini disebutnya sebagai bentuk tanggung jawab moral atas polemik surat "misi budaya" yang viral di media sosial.
Lantas, siapa sebenarnya sosok menteri ini dan berapa total kekayaannya?
Datangi KPK Sebagai Bentuk Tanggung Jawab Moral
Maman Abdurrahman tiba di Gedung KPK sekitar pukul 15.00 WIB.
Ia menyatakan kunjungannya adalah untuk menunjukkan sikap kooperatif dan bertanggung jawab atas kegaduhan yang timbul akibat surat dari kementeriannya.
Surat tersebut meminta fasilitas pendampingan dari KBRI di sejumlah negara Eropa untuk perjalanan "misi budaya" sang istri.
Hal ini memicu kritik tajam dari publik mengenai dugaan penyalahgunaan fasilitas negara oleh pihak non-pejabat.
Profil Maman Abdurrahman: Dari Aktivis Mahasiswa ke Kursi Menteri
Lahir di Pontianak pada 10 September 1980, Maman adalah lulusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti, di mana ia pernah aktif sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Sebelum terjun ke dunia politik bersama Partai Golkar pada 2010, ia berkarir di sektor migas.
Karier politiknya terus menanjak hingga ia terpilih sebagai anggota DPR RI dan akhirnya ditunjuk menjadi Menteri UMKM pada 2024.
Gaji dan Harta Kekayaan Berdasarkan LHKPN
Sebagai seorang menteri, Maman menerima gaji dan tunjangan total sebesar Rp 18.650.000 per bulan, di luar fasilitas negara lainnya seperti rumah dinas dan kendaraan operasional.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dilaporkan pada 3 April 2024, total harta kekayaan Maman Abdurrahman mencapai Rp 15.789.116.232. Berikut rinciannya:
-
Tanah dan Bangunan: Rp 15.723.000.000
-
Alat Transportasi dan Mesin: Rp 1.225.000.000
-
Harta Bergerak Lainnya: Rp 336.000.000
-
Kas dan Setara Kas: Rp 1.265.116.232
-
Utang: -Rp 2.760.000.000
Kunjungan proaktif Maman Abdurrahman ke KPK ini menjadi sebuah langkah untuk meredam polemik yang menyeret nama keluarganya dan kementerian yang ia pimpin.
Di tengah sorotan publik terhadap integritas pejabat, transparansi mengenai latar belakang dan kekayaan menjadi hal yang tak terhindarkan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo