Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Merince Kogoya Beri Klarifikasi Usai Dicoret dari Miss Indonesia Gegara Konten Pro-Israel, Sebut Beda Keyakinan

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 2 Juli 2025 | 03:55 WIB
Merince Kogoya beri klarifikasi.
Merince Kogoya beri klarifikasi.

SOLOBALAPAN.COM - Kontroversi mewarnai ajang kecantikan Miss Indonesia 2025.

Wakil dari Provinsi Papua Pegunungan, Merince Kogoya, secara resmi didiskualifikasi oleh panitia.

Penyebabnya adalah sebuah konten video lama di akun Instagram pribadinya yang menunjukkan dukungan terhadap Israel.

Kini, Merince buka suara mengenai pencoretan namanya dari ajang bergengsi tersebut dan menyampaikan kekecewaannya.

Unggahan Video Pro-Israel Jadi Pemicu Kontroversi

Pemicu masalah ini adalah sebuah video yang diunggah Merince pada 16 Mei 2023. Dalam video tersebut, ia terlihat bernyanyi dan menari bersama beberapa orang sambil mengibarkan bendera Israel.

Unggahan itu juga disertai dengan keterangan yang berbunyi: “Giat bagi SION, Setia bagi YERUSALEM, Berdiri bagi ISRAEL...”.

Konten lawas inilah yang kembali viral dan menyulut perdebatan sengit di media sosial, mengingat sentimen publik Indonesia yang kuat terhadap isu Palestina.

Dicoret dari Ajang, Digantikan oleh Finalis Lain

Menyikapi kontroversi yang meluas, Yayasan Miss Indonesia (YMI) pada 27 Juni 2025 lalu mengambil keputusan tegas.

Mereka memulangkan Merince Kogoya dan secara resmi menunjuk Karmen Anastasya sebagai wakil baru dari Papua Pegunungan untuk berkompetisi di Miss Indonesia 2025.

Klarifikasi Merince: Antara Keyakinan dan Kekecewaan

Melalui unggahan di Instagram Story pribadinya, Merince memberikan klarifikasi atas kejadian yang menimpanya.

Ia menyatakan bahwa video tersebut merupakan bentuk ekspresi dari keyakinan agamanya sebagai seorang pengikut Kristus.

Ia menyayangkan video lamanya disebarluaskan tanpa konteks yang benar mengenai keyakinannya itu.

Merince juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan panitia yang ia anggap terlalu dipengaruhi oleh opini publik.

"Perjuangan saya empat bulan hingga berhasil mendapatkan status finalis Papua Pegunungan harus digantikan dengan keputusan karena opini publik yang berbeda," jelas Merince.

Ia merasa keputusan itu diambil karena tekanan dari warganet yang pro-Palestina, yang berseberangan dengan keyakinannya.

Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga dan seluruh masyarakat Papua Pegunungan yang telah mendukungnya.

Kasus Merince Kogoya menjadi contoh nyata betapa rekam jejak digital dapat berdampak besar pada karier seseorang.

Insiden ini juga membuka diskusi yang lebih luas tentang batas antara ekspresi keyakinan pribadi dengan sentimen publik dalam sebuah kontes nasional yang sensitif terhadap isu-isu geopolitik. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#miss indonesia #keyakinan #Merince Kogoya #klarifikasi #Dicoret #konten