SOLOBALAPAN.COM - Gencatan senjata antara Iran dan Israel yang baru saja disepakati tidak membuat Teheran gentar.
Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Mohammad Eslami, menegaskan bahwa program nuklir negaranya akan terus berjalan tanpa henti.
Pernyataan tegas ini muncul di tengah laporan intelijen Amerika Serikat (AS) yang justru meragukan klaim sukses besar serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran, yang bertentangan dengan narasi Gedung Putih.
Iran: Program Nuklir Jalan Terus, Tak Ada Jeda
Dalam konferensi pers pasca-gencatan senjata pada Selasa (24/6), Mohammad Eslami menyatakan bahwa serangan militer dari Israel dan AS tidak akan menghalangi kemajuan teknologi negaranya.
“Tidak akan ada jeda dalam kelanjutan program nuklir kami,” tegas Eslami, seperti dikutip dari Mehr News pada Kamis (26/6). Ia menambahkan bahwa Iran telah merancang sistem operasional yang mampu mencegah gangguan produksi akibat serangan.
Hal senada diungkapkan Juru Bicara AEOI, Behrouz Kamalvandi. “Musuh tidak akan mampu menghentikan teknologi ini. Iran memiliki kapasitas dan kemampuan untuk terus melaju,” katanya.
Klaim Sukses Trump vs. Penilaian Intelijen Internal AS
Di sisi lain, muncul dua narasi yang bertolak belakang mengenai efektivitas serangan AS ke tiga situs nuklir Iran pada akhir pekan lalu.
-
Versi Gedung Putih: Presiden Donald Trump dan Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengklaim serangan itu sebagai "operasi militer yang sangat sukses" yang "sepenuhnya menghancurkan" target dengan bom presisi tinggi.
-
Versi Intelijen AS: Namun, sumber intelijen AS yang dikutip oleh CNN dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA) menyebut dampak serangan itu "sangat terbatas".
Program nuklir Iran diperkirakan hanya mundur beberapa bulan, bukan hancur, karena Teheran telah berhasil mengevakuasi peralatan penting sebelum serangan terjadi.
Stok uranium yang telah diperkaya juga dilaporkan tetap aman.
Gedung Putih Sebut Laporan Intelijen Sebagai 'Bocoran Ilegal'
Menanggapi laporan intelijen yang bertentangan tersebut, Gedung Putih menolaknya mentah-mentah.
Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyebut laporan itu sebagai "kebocoran yang tidak sah" yang bertujuan untuk mendiskreditkan kepemimpinan Presiden Trump.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Kini, meskipun perang 12 hari telah berakhir dengan gencatan senjata yang diumumkan Trump pada Selasa lalu, situasinya tetap sangat rapuh.
Pernyataan keras Iran untuk melanjutkan program nuklirnya, ditambah dengan keraguan atas efektivitas serangan AS, menunjukkan bahwa akar konflik masih belum terselesaikan.
Perdamaian yang diumumkan Presiden Trump kini berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian dan potensi eskalasi baru di masa depan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo