SOLOBALAPAN.COM - Proses evakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dari jurang di Gunung Rinjani menyisakan kisah heroik yang viral di media sosial.
Sosok anggota Tim SAR, yang dikenal sebagai Bung Agam, menuai pujian luas dari warganet Indonesia atas perjuangannya.
Namun, di sisi lain, tragedi yang terjadi setelah Juliana terjatuh ke jurang sedalam 600 meter ini juga menyulut kemarahan dari netizen asal Brasil yang menuntut pertanggungjawaban.
Perjuangan Bung Agam Mengangkat Jenazah dari Jurang 600 Meter
Sebuah video yang diunggah oleh akun X (sebelumnya Twitter) @aingriwehuy pada 25 Juni lalu menjadi viral.
Rekaman tersebut menunjukkan detik-detik perjuangan Bung Agam mendaki tebing yang sangat curam sambil mengangkut jasad Juliana yang terikat di seutas tali.
Aksi ini disertai dengan keterangan yang tulus dari Bung Agam.
"Turut berduka cita, atas meninggalnya pendaki asal Brazil, saya tidak bisa berbuat banyak, saya hanya bisa bantu seperti ini. Semoga amal ibadahnya di terima disisiNya Aamiin!'," tulisnya, yang langsung menyentuh hati banyak orang.
Warganet Indonesia Puji Tim SAR, Tak Terima Jika Disalahkan
Melihat perjuangan yang luar biasa berat tersebut, warganet Indonesia sontak memberikan dukungan penuh kepada Tim SAR.
Mereka tidak terima jika ada pihak yang menyalahkan tim penyelamat atas musibah tersebut.
Kemarahan Netizen Brasil di Media Sosial Pejabat Indonesia
Namun, di saat yang sama, muncul reaksi yang sangat berbeda dari luar negeri.
Sejumlah warganet Brasil, yang berduka atas meninggalnya Juliana, meluapkan kemarahan mereka di media sosial.
Bahkan, mereka dilaporkan menyerbu kolom komentar akun X milik Presiden Prabowo Subianto.
"Parah netizen Brazil ngamuk-ngamuk di twitternya pak Prabowo," ungkap netizen, menunjukkan adanya tekanan dan kemarahan dari pihak keluarga dan warga negara korban.
Tragedi di Gunung Rinjani ini telah menciptakan dua narasi yang bertolak belakang di dunia maya.
Di satu sisi, ada kisah kepahlawanan dan perjuangan tim penyelamat lokal yang diapresiasi di dalam negeri.
Di sisi lain, ada duka dan kemarahan dari pihak asing yang mencari pertanggungjawaban.
Insiden ini menjadi cerminan rumitnya penanganan krisis di era digital yang tanpa batas. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo