Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kenapa Evakuasi Juliana Marins Tidak Menggunakan Helikopter, Ini Penjelasan Pakar Penerbangan

Damianus Bram • Jumat, 27 Juni 2025 | 01:48 WIB
Tim SAR bersiap mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil Juliana De Souza Pereira Marins di Gunung Rinjani NTB.
Tim SAR bersiap mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil Juliana De Souza Pereira Marins di Gunung Rinjani NTB.

SOLOBALAPAN.COM – Proses evakuasi pendaki asal Brazil, Juliana De Souza Pereira Marins, yang terjatuh di Gunung Rinjani, NTB, menuai sorotan publik, khususnya warganet dari Indonesia dan Brazil.

Salah satu perdebatan paling mencolok adalah mengapa evakuasi tidak dilakukan menggunakan helikopter, padahal lokasi korban berada di medan terjal dan curam.

Menanggapi hal tersebut, pakar penerbangan Gerry Soejatman pun buka suara.

Menurutnya, evakuasi udara di ketinggian ekstrem bukan perkara mudah, meskipun Basarnas memiliki armada helikopter.

“Basarnas punya helikopter AW139 dan AS365, tapi tidak semuanya cocok untuk SAR di medan seperti Gunung Rinjani,” ujar Gerry saat dikutip dari JawaPos.com, pada Kamis (26/6).

Masalah Teknis: Hover di Ketinggian Ekstrem

Menurut Gerry, titik jatuhnya korban berada di ketinggian sekitar 9.400 kaki, sedangkan lokasi kejadian secara keseluruhan berada di 10.000 kaki di atas permukaan laut.

“Kalau mau terbang mountain rescue, sangat tergantung pada cuaca dan kemampuan helikopternya,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa untuk melakukan evakuasi menggunakan metode hoisting, helikopter harus melayang (hover). Ada dua jenis hover yang umum: Hover In Ground Effect (IGE) dan Hover Out of Ground Effect (OGE).

Namun, Hover IGE hanya bisa dilakukan di ketinggian rendah dan di atas permukaan yang datar.

Sedangkan untuk lokasi seperti jurang atau tebing, satu-satunya pilihan adalah Hover OGE—yang punya batas kemampuan ketinggian.

“Helikopter AW139 Basarnas hanya mampu melakukan hover OGE hingga 8.130 kaki, sedangkan AS365 hanya sampai 3.740 kaki,” ungkap Gerry.

Artinya, kedua helikopter tersebut tidak bisa melakukan evakuasi di lokasi Juliana jatuh, meskipun cuaca sedang bagus.

Basarnas Sudah Maksimal

Sebelumnya, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii juga menegaskan bahwa proses evakuasi di gunung atau jurang tidak bisa disamakan dengan operasi SAR di daratan rata.

“Proses evakuasi pada saat terjadi kedaruratan di ketinggian dan juga di kedalaman artinya di jurang, efeknya mungkin tidak sama seperti yang ada di permukaan dengan ketinggian yang rata,” tegas Syafii.

Upaya maksimal sudah dilakukan Tim SAR gabungan, termasuk pengiriman helikopter. Namun, kondisi medan dan batas teknis membuat semua opsi udara tidak memungkinkan. (dam)

Editor : Damianus Bram
#gunung rinjani #pendaki #helikopter #brasil #indonesia #Juliana Marins #evakuasi