SOLOBALAPAN.COM - Belakangan ini, media sosial ramai membahas kondisi kesehatan Presiden Joko Widodo (Jokowi), terutama setelah beredar kabar bahwa beliau mengalami penyakit langka bernama Stevens-Johnson Syndrome (SJS).
Isu tersebut mencuat setelah publik melihat kondisi kulit Jokowi yang tampak dalam masa pemulihan usai kunjungan dari Vatikan.
Namun, kabar tersebut langsung dibantah oleh pihak Istana.
Ajudan Presiden, Kompol Syarif Fitriansyah, menegaskan bahwa kondisi Jokowi baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala penyakit serius.
“Bapak saat ini sedang pemulihan dari alergi kulit pasca-pulang dari Vatikan,” kata Kompol Syarif Fitriansyah di Kota Solo, Kamis (5/6/2025), seperti dikutip SoloBalapan.com dari Kompas.com.
Kompol Syarif juga menegaskan bahwa isu mengenai Jokowi terkena penyakit Stevens Johnson Syndrome (SJS) hanyalah kabar burung.
“Wah, hoaks itu, enggak benar itu,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Presiden Jokowi tidak menunjukkan gejala khas SJS, seperti sensasi panas hebat atau gatal berlebihan.
Yang dialami Jokowi hanyalah reaksi alergi ringan pada kulit, bukan penyakit serius, apalagi gangguan autoimun.
Alergi ini diduga muncul karena perubahan cuaca ekstrem setelah kunjungan beliau ke Vatikan. Gejala baru terlihat beberapa hari setelah beliau kembali ke Indonesia.
Meski isu tersebut tidak benar, penting bagi masyarakat untuk mengenali lebih jauh mengenai apa itu Sindrom Stevens-Johnson, gejala, serta penanganannya.
Apa Itu Sindrom Stevens-Johnson?
SJS merupakan salah satu penyakit kegawatan di bidang dermatologi.
Penyakit ini sering berkaitan dengan reaksi alergi obat.
Akan tetapi, ia juga bisa dipicu infeksi, terutama karena virus, bakteri, jamur.
Sementara itu mengutip dari Mayo Clinic, SJS adalah penyakit langka yang menyerang kulit dan jaringan lendir, seperti di bagian mulut, mata, dan alat kelamin.
Kondisi ini biasanya dipicu oleh reaksi terhadap obat atau infeksi tertentu.
Awalnya, gejalanya mirip seperti flu, seperti demam, lemas, dan sakit tenggorokan.
Tak lama setelah itu, muncul ruam kemerahan yang terasa nyeri, lalu kulit bisa melepuh dan mengelupas, menyerupai luka bakar.
Gejala Awal Sindrom Stevens-Johnson
SJS biasanya dimulai dengan gejala ringan yang menyerupai flu, seperti:
* Demam
* Sakit tenggorokan
* Kelelahan
* Nyeri otot
* Batuk
Setelah itu, gejala akan berkembang dan menyerang jaringan lendir seperti mata, tenggorokan, dan alat kelamin.
Gejala Stevens Johnson Syndrome ini dikatakan bisa sangat menyakitkan, terutama saat kulit mulai melepuh. Lepuhan akibat SJS biasanya mempengaruhi 10 persen bagian tubuh. Jika sudah lebih dari 30 persen, kondisinya disebut sebagai toxic epidermal necrolysis (TEN).
Gejala di Kulit
Dilansir dari melalui laman GoodRx, salah satu gejala SJS memang dapat terlihat dari kondisi kulit. Ruam pada penderita SJS bisa berubah-ubah lokasi dan tampilan setiap harinya.
Biasanya pertama kali muncul di dada bagian atas, wajah, serta tangan dan kaki;
Saat pertama kali muncul, ruam tampak seperti bintik-bintik merah, keunguan, atau kecoklatan dengan berbagai ukuran;
Bintik-bintik tersebut kemudian akan menjadi lebih gelap di bagian tengah dan lebih terang di bagian tepinya. Kondisi ini terkadang disebut sebagai lesi “target” karena bentuknya seperti sasaran tembak;
Dalam hitungan jam hingga hari, ruam mulai menyebar ke bagian tubuh lainnya. Paling sering menyebar ke perut, lengan, dan kaki;
Saat menyebar, bintik-bintik merah tersebut menyatu dan membentuk lepuh berisi cairan;
Pada akhirnya, lepuh akan pecah dan kulit akan mengelupas. Hal ini menyebabkan kulit mudah terinfeksi.
Penyebab dan Faktor Risiko
SJS biasanya dipicu oleh:
1. Obat-obatan tertentu, seperti:
* Allopurinol (obat asam urat)
* Antikonvulsan dan antipsikotik
* Antibiotik sulfa
* Obat HIV
* Obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan naproksen
2. Infeksi, seperti:
* Pneumonia
* HIV
Beberapa kelompok yang berisiko tinggi mengalami SJS antara lain:
* Penderita HIV/AIDS
* Pasien kanker
* Mereka dengan daya tahan tubuh lemah
* Individu yang memiliki gen HLA-B\*1502 (umum pada keturunan Asia)
* Orang dengan riwayat keluarga atau riwayat pribadi SJS
Penanganan dan Pencegahan
Sindrom Stevens-Johnson membutuhkan penanganan darurat di rumah sakit. Dokter akan:
* Menghentikan obat penyebab
* Memberikan perawatan luka kulit
* Memberi obat pereda nyeri
* Mencegah infeksi
Jika pernah mengalami SJS akibat obat tertentu, sangat penting untuk menghindari obat tersebut di masa mendatang. Untuk orang Asia, tes genetik juga bisa dilakukan sebelum mengonsumsi obat epilepsi tertentu untuk mencegah reaksi berat. (lz)
Editor : Laila Zakiya