SOLOBALAPAN.COM - Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) baru saja merilis denah rumah subsidi terbaru untuk tipe 18 meter persegi, namun desain rumah mungil ini justru menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial.
Denah yang diperkenalkan sebagai opsi tambahan, bukan pengganti tipe rumah sebelumnya, diungkap oleh Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP, Sri Haryati.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat tetap bebas memilih tipe rumah subsidi yang tersedia.
“Itu tidak diganti, tetapi kami menambah fiturnya. Nanti masyarakat yang akan memilih opsinya,” ujar Sri Haryati dalam keterangan yang dikutip dari Antara News, Rabu (12/6/2025).
Namun, polemik muncul usai akun Twitter @ipunk_baik membagikan tangkapan denah rumah subsidi tipe 18m² pada 11 Juni 2025.
Dalam unggahan tersebut, ia menjelaskan bahwa ruang servis seperti dapur dan kamar mandi terletak di bagian depan, living room di tengah, dan kamar tidur justru berada di bagian paling belakang rumah.
“Ini adalah denah dari rumah subsidi tipe 18m2 rilisan dari Kementerian PKP. Ruang servis seperti dapur dan WC berada di area depan, living room di bagian tengah, di bagian belakang ada kamar tidur. Apa pendapat kalian tentang layout rumah ini?” cuitnya.
Salah satu varian denah lainnya bahkan menempatkan kamar mandi di dalam kamar tidur, namun desain ini memicu kekhawatiran netizen terkait minimnya pencahayaan alami dan sirkulasi udara.
“Isu utamanya adalah minimnya penghawaan serta pencahayaan dalam kamar tidur,” ujar salah satu warganet.
Cuitan tersebut viral dan telah dilihat oleh lebih dari 316 ribu pengguna Twitter, memancing berbagai reaksi—mulai dari candaan hingga kritik serius.
"Ketawa sampai nangis," komentar salah satu pengguna.
“Studio apart ini mah beneran cuma cukup buat single doang. Gak layak disebut rumah subsidi karena biasanya ditujukan buat keluarga kecil. Banyak juga yang maksain tinggal bareng lebih dari 3 orang,” tulis netizen lain.
Rumah subsidi tipe 18m² ini disebut-sebut terlalu sempit untuk standar hunian keluarga, dan lebih cocok untuk individu lajang.
Polemik ini mencerminkan pentingnya aspek desain fungsional, ventilasi sehat, dan kenyamanan penghuni dalam pembangunan rumah subsidi yang menyasar lapisan masyarakat bawah.
Sampai saat ini, Kementerian PKP belum merespons komentar publik secara langsung di media sosial.
Namun diskursus yang berkembang menunjukkan bahwa masyarakat semakin kritis terhadap kualitas desain hunian subsidi, bukan hanya kuantitasnya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo