SOLOBALAPAN.COM - Dunia dakwah kembali berduka.
Gus Auzy Muhaimin Meninggal Dunia, Sosok Pendakwah Muda yang Menginspirasi Lewat Media Sosial
Gus Auzy menghembuskan napas terakhir di sebuah penginapan di Kediri saat sedang menghadiri sebuah kegiatan keagamaan.
Meski begitu, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak keluarga mengenai detail kronologi maupun penyebab pasti wafatnya beliau.
Sosok Gus Auzy Muhaimin
Memiliki nama lengkap RM Moch Imam Auzai Addimyati, ia lebih dikenal luas sebagai Gus Auzy Muhaimin.
Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Lemah Pinggir, Bojonegoro, sekaligus figur muda yang aktif menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang dekat dengan generasi milenial dan Gen Z.
Selain berdakwah secara langsung di berbagai majelis dan pesantren, Gus Auzy juga produktif berdakwah melalui media sosial.
Baca Juga: Profil Gus Auzy Muhaimin, Ulama Muda Viral TikTok yang Tutup Usia
Akun TikTok miliknya, @auzy_muhaimin, telah diikuti lebih dari 35 ribu pengguna, dengan konten dakwah singkat yang menyentuh dan mudah dipahami.
Respons dan Ungkapan Duka
Kabar wafatnya Gus Auzy diumumkan langsung oleh sang istri melalui akun TikTok yang sama.
Dalam video penuh haru, ia mengungkapkan permintaan maaf mewakili almarhum atas segala khilaf selama hidupnya.
“Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya, dan mohon doa semoga beliau husnul khatimah,” ucapnya lirih.
Unggahan tersebut langsung dipenuhi oleh ribuan komentar dari para netizen, santri, dan rekan-rekan dakwah yang merasa kehilangan sosok inspiratif seperti beliau.
Penyebab Meninggal: Diduga Akibat Penyakit Jantung
Meski belum ada pernyataan medis resmi dari keluarga, berdasarkan informasi yang dihimpun dari JatimNetwork, Gus Auzy diduga wafat akibat penyakit jantung.
Beberapa saksi menyebutkan bahwa saat ditemukan, kondisi tubuh beliau tampak membiru—ciri khas serangan jantung mendadak.
Warisan Dakwah dan Keteladanan
Gus Auzy Muhaimin dikenang sebagai pendakwah yang tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga menyuguhkannya dengan gaya santun dan penuh empati.
Ceramah-ceramahnya kerap menekankan pentingnya akhlak, toleransi, dan cinta terhadap sesama.
Karyanya di media sosial menjadi contoh bahwa dakwah tidak harus kaku atau terbatas di mimbar, namun bisa menyentuh hati siapa pun, di mana pun, termasuk melalui platform digital. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo