SOLOBALAPAN.COM – Belakangan ini, jagat maya dihebohkan oleh klaim bahwa Indonesia akan mengalami hujan salju pada tahun 2026.
Kabar ini menyebar luas melalui video pendek yang viral di TikTok dan YouTube, menampilkan peta Indonesia yang seolah tertutup salju, lengkap dengan narasi ala siaran berita.
Namun, dari mana kabar mengejutkan ini pertama kali muncul dan seberapa akurat kebenarannya?
Isu ini mencuat pertama kali lewat video dari akun TikTok @akunakjadiprasiden yang menampilkan visual siaran berita bertajuk "INDONESIA DIPERIRAKAN BERSALJU PADA 2026" dari stasiun fiktif bernama IKY News.
Dalam video tersebut, peta Indonesia diwarnai putih, seolah menggambarkan salju menyelimuti seluruh negeri, termasuk Riau.
"Emang benar Indonesia bakalan turun salju," tulis akun tersebut dalam caption-nya.
Visual dan narasi dalam video ini sukses mengundang perhatian netizen, sebagian terkejut dan sebagian lagi langsung curiga bahwa video tersebut hanyalah hasil manipulasi atau rekayasa berbasis kecerdasan buatan (AI).
Menanggapi video viral tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara tegas membantah klaim bahwa Indonesia akan mengalami hujan salju.
“BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi Indonesia akan turun salju. Itu hoaks dan tidak berdasarkan data ilmiah,” ucap Prof. Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG dalam webinar 24 Maret 2025.
BMKG bahkan menegaskan bahwa kabar tersebut tidak memiliki dasar ilmiah sama sekali dan meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya pada video AI yang dirancang untuk mengejar viralitas dan klik semata.
Kenapa Salju Tidak Mungkin Turun di Indonesia?
Secara ilmiah, Indonesia adalah negara tropis yang terletak di garis khatulistiwa dengan suhu udara rata-rata 26–32°C, jauh dari syarat suhu minimum di bawah 0°C untuk pembentukan salju.
Berikut adalah alasan logis mengapa hujan salju hampir mustahil terjadi di Indonesia:
* Letak geografis di khatulistiwa
Indonesia memiliki iklim tropis yang tidak mendukung terbentuknya salju.
* Suhu udara tinggi
Salju memerlukan suhu di bawah nol derajat Celsius, kondisi yang tidak pernah terjadi di dataran rendah Indonesia.
* Kelembapan tinggi tanpa suhu dingin
Meski curah hujan tinggi, suhu yang hangat membuat presipitasi berupa air, bukan es atau salju.
* Hanya terjadi di ketinggian ekstrem
Salju abadi hanya ditemukan di Puncak Jayawijaya, Papua, yang berada di ketinggian lebih dari 4.800 meter.
Alih-alih memprediksi salju akan turun di tempat baru, BMKG justru mengungkap bahwa satu-satunya wilayah bersalju di Indonesia, yakni Puncak Cartenz di Jayawijaya, Papua, sedang dalam ancaman.
“Es abadi di Puncak Jayawijaya diprediksi mencair seluruhnya akibat perubahan iklim dan pembukaan hutan di Papua,” ujar Prof. Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG.
Penelitian bersama BMKG dan PT Freeport Indonesia menunjukkan bahwa ketebalan es abadi terus menipis sejak 2010, dan bisa lenyap sepenuhnya pada 2026, berbanding terbalik dengan klaim video viral.
Dari hasil penelusuran, dapat disimpulkan bahwa klaim soal Indonesia akan turun salju pada 2026 berasal dari video viral fiktif dan tidak memiliki landasan ilmiah.
BMKG sebagai otoritas resmi cuaca telah menegaskan bahwa fenomena tersebut mustahil terjadi dalam kondisi geografis dan iklim Indonesia saat ini.
Sebaliknya, masyarakat justru perlu waspada terhadap kenyataan bahwa salju abadi di Papua tengah dalam ambang kepunahan akibat perubahan iklim global. (lz)
Editor : Laila Zakiya