SOLOBALAPAN.COM – Duka mendalam menyelimuti keluarga Gimson Beni Butarbutar (38) dan Siska Yusniati Sibarani (30), warga Desa Buluh Rampai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.
Putra mereka, KB, siswa kelas 2 SDN 012, meninggal dunia usai diduga menjadi korban perundungan (bully) oleh lima kakak kelasnya.
Peristiwa memilukan ini memantik perhatian publik setelah viral di media sosial. KB, bocah 8 tahun itu, diduga mengalami kekerasan fisik dan psikis berkepanjangan yang dipicu oleh latar belakang suku dan agama.
Awal Mula Kekerasan
Insiden bermula pada Senin (19/5/2025) ketika KB pulang lebih awal dari sekolah dengan sepeda yang bannya sengaja dikempeskan oleh kakak kelas.
Keesokan harinya, KB kembali pulang cepat dan sempat berbohong kepada sang ayah, mengaku ada acara sekolah. Namun sang ibu menjelaskan bahwa KB pulang lebih awal karena sakit.
Malam harinya, kondisi KB memburuk. Ia mengalami demam tinggi, sakit pinggang, dan bengkak di perut bagian bawah.
Teman KB, Rio, kemudian memberi tahu bahwa KB dipukuli oleh lima kakak kelasnya.
Laporan Orang Tua Tak Ditanggapi Serius
Gimson melapor ke wali kelas yang menjanjikan akan memanggil orang tua pelaku pada Kamis (22/5/2025), namun tak ditepati.
Gimson akhirnya menghadap kepala sekolah dan dipertemukan dengan pelaku berinisial DR, yang mengaku hanya menumbuk dari belakang.
Nama pelaku lain, HM, disebut sebagai orang yang memukul perut korban.
Orang tua HM tidak terima tuduhan tersebut, dan menyebut ada pelaku lain.
Sementara kondisi KB terus menurun, hingga pada Senin (26/5/2025) dini hari pukul 02.10 WIB, ia meninggal dunia di RSUD Pematang Reba setelah sempat mengalami kejang dan muntah darah.
"Seminggu yang lalu, dia itu sudah sering di-bully. Dibilang suku ini, agama ini. Itu sebelum dia sakit... biasa lah, karena mereka namanya anak-anak sekolah," kata Gimson lirih.
Proses Hukum dan Tangisan Ayah di Pusara Anak
Kasus ini kini ditangani oleh Polres Indragiri Hulu. Autopsi telah dilakukan dan hasilnya masih menunggu.
Kapolres AKBP Fahrian Saleh Siregar memastikan bahwa lima pelaku telah teridentifikasi: HM (12), RK (13), MJ (11), DR (11), dan NN (13).
"Kami masih menunggu hasil autopsi, biar tahu pasti apa penyebab korban meninggal dunia," ujar Kapolres.
Tangisan Gimson saat pemakaman KB membuat haru pelayat yang hadir. Ia berteriak dan mengetuk peti jenazah anaknya, meminta keadilan ditegakkan.
"Saya berharap pihak Kepolisian bisa tegas terhadap para pelaku, saya meminta keadilan ditegakkan untuk anak saya. Ini tidak adil!" teriaknya, dikutip dari Tribun Pekanbaru, Jumat (30/5/2025).
Hingga selesai pemakaman, Gimson tak beranjak dari makam putranya. Ia terus memeluk gundukan tanah sambil menangis. (dam)
Editor : Damianus Bram