SOLOBALAPAN.COM – Kabar duka menyelimuti keluarga jurnalis senior Najwa Shihab. Sang suami, Ibrahim Sjarief bin Husein Assegaf, meninggal dunia pada Selasa (20/5/2025) pukul 14.29 WIB di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON), Jakarta, di usia 48 tahun.
Dikenal sebagai pengacara senior berintegritas, Ibrahim tak hanya berkontribusi besar di dunia hukum, tetapi juga dikenal sebagai sosok ayah dan suami yang penuh keteladanan.
Cinta yang Tumbuh di Kampus, Bersemi dalam Harmoni
Kisah cinta Najwa Shihab dan Ibrahim Assegaf berawal saat mereka masih menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).
Pertemuan yang berawal dari bangku kuliah itu berlanjut ke jenjang yang lebih serius hanya dalam waktu enam bulan.
Najwa, yang saat itu berusia 20 tahun, mengaku mantap menikah dengan Ibrahim karena merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat.
Pasangan ini melangsungkan pernikahan pada 1997 di Solo, kampung halaman Ibrahim, dengan upacara adat Jawa yang sakral.
Keluarga Kecil yang Penuh Arti
Dari pernikahan tersebut, Najwa dan Ibrahim dikaruniai seorang putra, Izzat Ibrahim Assegaf.
Putri kedua mereka, Namiyah, meninggal dunia beberapa jam setelah dilahirkan pada 2011—sebuah tragedi keluarga yang mendalam namun memperkuat ikatan mereka.
Meski sempat menyatakan keinginan untuk memiliki anak perempuan lagi, keduanya memilih bersyukur atas kehadiran Izzat yang tumbuh menjadi pribadi cerdas dan membanggakan.
Pilar di Balik Sukses Najwa Shihab
Ketika Najwa memutuskan menikah muda dan menapaki karier sebagai jurnalis, Ibrahim menjadi pendukung utama. Kala itu, Najwa baru bergabung dengan Metro TV setelah memulai karier di RCTI.
Dukungan penuh dari Ibrahim membuat Najwa tumbuh sebagai jurnalis independen dan berintegritas, yang dikenal luas melalui program “Mata Najwa”.
Karier Hukum yang Gemilang
Ibrahim lahir di Surakarta pada 1977. Ia menempuh studi hukum di Universitas Indonesia dan melanjutkan pendidikan Master of Law (LL.M) di University of Melbourne, Australia.
Ia juga pernah menjadi peneliti tamu di Harvard Law School dalam program Studi Hukum Asia Timur.
Kariernya menanjak sebagai mitra di firma hukum Assegaf Hamzah & Partners (AHP) dan Direktur di Justika, platform hukum daring yang memperluas akses masyarakat terhadap bantuan hukum.
Keahliannya di bidang perbankan, restrukturisasi keuangan, serta merger dan akuisisi membuatnya dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam dunia hukum di Indonesia.
Duka dan Doa dari Banyak Pihak
Jenazah Ibrahim disemayamkan di rumah duka kawasan Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Prosesi pemakaman dijadwalkan pada Rabu (21/5/2025) pukul 10.00 WIB di TPU Jeruk Purut.
Ucapan belasungkawa membanjiri media sosial sejak kabar kepergian Ibrahim tersebar. Sejumlah kolega dan tokoh publik mengenangnya sebagai pribadi tenang, cerdas, dan menjunjung tinggi etika hukum. (dam)
Editor : Damianus Bram