SOLOBALAPAN.COM - Di tengah perbukitan sejuk dan asri Desa Kuta Mbelin, Kecamatan Lau Baleng, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kini berdiri sebuah sosok ikonik: Patung Juma Jokowi.
Menjulang setinggi 6 meter di atas fondasi batu setinggi 1,5 meter, monumen ini bukan sekadar seni patung, tapi lambang rasa terima kasih rakyat kepada presidennya.
Yang membuat patung ini begitu istimewa bukan hanya ukurannya atau tampilannya, tetapi proses lahirnya—yang murni dari swadaya masyarakat, dengan biaya mencapai Rp2,5 miliar.
Ya, warga Karo patungan, gotong royong, demi mendirikan patung pemimpin yang mereka anggap telah membawa perubahan nyata ke tanah mereka.
“Mejuah-juah,” Sambut Jokowi Saat Patung Diresmikan
Pembangunan dimulai sejak November 2023. Di awal proyek, hadir sosok menantu Jokowi sekaligus Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, yang ikut menyumbangkan Rp500 juta atas nama keluarga besar dan relawan.
Dalam acara peletakan batu pertama, Bobby melakukan panggilan video langsung dengan Jokowi.
Warga yang berkumpul menyaksikan momen hangat itu melalui layar besar.
“Saya senang, itu saja. Kalau masyarakat senang, saya pun ikut senang. Terima kasih Pak Kades, seluruh warga di Liang Melas Datas. Mejuah-juah,” ujar Jokowi, merespons penuh rasa haru.
Makna di Balik Patung: Jeruk, Kepalan Tangan, dan Perjuangan
Patung Juma Jokowi tidak dibuat sembarangan. Tangan kanan Jokowi mengepal ke atas, melambangkan semangat juang dan kepemimpinan.
Di tangan kirinya, ia menggenggam buah jeruk—simbol hasil bumi unggulan dari kawasan Liang Melas Datas.
Wajahnya menatap ke depan. Sebuah metafora kuat: melihat masa depan yang lebih baik, bersama rakyat.
Berawal dari Truk Jeruk ke Istana, Berakhir Jadi Jalan Mulus
Monumen ini tak lahir tanpa cerita. Semua bermula pada 3 Desember 2021, ketika warga Karo mengirim satu truk penuh buah jeruk ke Istana Negara.
Aksi unik ini bukan kiriman hadiah, tapi jeritan rakyat—meminta pemerintah memperbaiki jalan rusak parah yang sudah puluhan tahun tak tersentuh.
Permintaan itu tidak diabaikan. Hanya berselang dua bulan, pada Februari 2022, pemerintah memulai pembangunan jalan sepanjang 37 kilometer yang membelah wilayah Liang Melas Datas.
Kini Jeruk Tak Lagi Busuk di Jalan
Dulu, petani kesulitan membawa hasil panen ke pasar. Jalanan berlumpur dan terjal membuat buah cepat rusak, harga jatuh, dan jerih payah mereka seolah sia-sia.
Kini, dengan jalan yang sudah mulus, hasil pertanian—terutama jeruk Karo—bisa sampai ke kota dengan kualitas terjaga dan harga lebih tinggi.
Roda ekonomi berputar lebih cepat, harapan tumbuh kembali.
Monumen Cinta yang Tak Dibayar dengan Politik
Patung Juma Jokowi adalah monumen yang unik. Bukan dibangun pemerintah, bukan proyek pencitraan, tapi murni cinta rakyat.
Sebuah bentuk apresiasi yang tak ternilai dari warga yang merasa hidupnya berubah berkat perhatian negara.
Dan dari ketinggian perbukitan Karo, patung itu kini berdiri tegak, menyampaikan pesan sederhana:
Jika pemimpin mau mendengar, rakyat pun akan mengingat. Bahkan untuk selamanya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo