SOLOBALAPAN.COM – Ketegangan militer antara India dan Pakistan kembali menyita perhatian dunia.
Dua negara bersenjata nuklir di Asia Selatan itu dilaporkan kembali terlibat bentrok udara setelah Angkatan Udara Pakistan mengklaim telah menembak jatuh lima pesawat tempur milik India, menyusul serangan udara yang lebih dulu dilancarkan oleh New Delhi.
Perseteruan bersenjata ini bukan hal baru. Akar konflik India-Pakistan telah berlangsung lebih dari tujuh dekade, menjadikannya salah satu konflik geopolitik paling kompleks di dunia modern.
Persoalannya berpusat di wilayah Jammu dan Kashmir, kawasan pegunungan yang diperebutkan kedua negara sejak pemisahan dari kolonial Inggris pada tahun 1947.
Saat India dan Pakistan merdeka, wilayah Jammu dan Kashmir berada dalam situasi dilematis.
Meski penduduknya mayoritas Muslim, daerah ini diperintah oleh seorang Maharaja Hindu, Hari Singh.
Ketika milisi bersenjata pro-Pakistan mulai menyerbu wilayah itu, Maharaja Hari Singh akhirnya meminta bantuan militer India dengan menandatangani Perjanjian Aksesi, yang menjadikan Kashmir bagian dari India.
Langkah ini memicu Perang India-Pakistan pertama pada 1947–1948, yang berakhir lewat mediasi PBB dan menghasilkan Line of Control (LoC) sebagai garis demarkasi de facto.
Namun, garis ini bukan solusi permanen—konflik tetap membara hingga kini.
India menganggap Kashmir sebagai bagian sah dari wilayah nasionalnya.
Sebaliknya, Pakistan bersikeras bahwa wilayah itu seharusnya bergabung dengannya karena mayoritas penduduknya beragama Islam.
Isu ini telah berubah menjadi simbol nasionalisme dan pertarungan identitas politik kedua negara.
Rekomendasi PBB untuk menggelar referendum pada tahun 1948 tidak pernah dilaksanakan, karena India mengklaim kondisi keamanan di wilayah itu tak kondusif, terlebih dengan adanya dugaan campur tangan Pakistan dan aksi kekerasan dari kelompok bersenjata.
Sejak akhir 1980-an, Kashmir dikuasai India sering dilanda gejolak berupa perlawanan militan dan protes massa.
Tuduhan pelanggaran hak asasi manusia oleh militer India turut memperkeruh suasana.
Tercatat, India dan Pakistan telah tiga kali terlibat perang besar—tahun 1947, 1965, dan 1971—dengan dua di antaranya secara langsung dipicu oleh konflik Kashmir.
Baku tembak dan bentrok sporadis di sepanjang LoC pun menjadi kejadian yang nyaris rutin.
India juga kerap menuduh Pakistan terlibat dalam sejumlah aksi terorisme, seperti serangan parlemen tahun 2001 dan tragedi Mumbai 2008.
Pakistan membantah keterlibatan langsung, namun mengaku memberi dukungan moral dan diplomatik kepada rakyat Kashmir.
Situasi semakin genting karena kedua negara memiliki persenjataan nuklir. Potensi eskalasi konflik dapat berakibat fatal tidak hanya bagi Asia Selatan, tetapi juga kestabilan global.
Upaya mediasi dari negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, serta lembaga internasional seperti PBB, belum membuahkan solusi damai yang nyata.
India tetap memandang isu Kashmir sebagai urusan dalam negeri, sementara Pakistan berusaha terus menginternasionalkan persoalan ini.
Konflik ini makin kompleks dengan keterlibatan Tiongkok, yang juga mengklaim sebagian wilayah di kawasan Aksai Chin.
Dukungan strategis antara Tiongkok dan Pakistan menambah tekanan geopolitik dalam sengketa ini.
Tak hanya faktor eksternal, dinamika domestik juga memperpanjang konflik.
Pemerintah di kedua negara sering menjadikan isu Kashmir sebagai alat untuk menggalang dukungan nasionalis, terutama menjelang pemilu.
Kemunculan kelompok militan yang mengklaim memperjuangkan kemerdekaan Kashmir, namun sering dianggap sebagai proksi negara tertentu, turut mempersulit jalan damai.
Puncak ketegangan terbaru terjadi pada Agustus 2019 ketika Pemerintah India mencabut status otonomi khusus Jammu dan Kashmir dengan menghapus Pasal 370 dalam konstitusinya.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari Pakistan dan memantik gelombang protes besar di wilayah tersebut.
Islamabad mengecam tindakan itu sebagai pencaplokan sepihak atas tanah yang disengketakan.
Dengan sejarah panjang konflik, kepemilikan senjata nuklir, serta keterlibatan aktor internasional, perang India-Pakistan menjadi salah satu potensi konflik global paling berbahaya yang masih belum menemukan jalan damai yang permanen. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo