SOLOBALAPAN.COM - Nama Aura Cinta, gadis asal Bekasi, terus menjadi buah bibir publik setelah video perdebatan panasnya dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, viral di media sosial.
Kritik tajamnya terhadap kebijakan penggusuran dan pelarangan wisuda sekolah membuat warganet terpecah—sebagian mendukung, namun tak sedikit pula yang mengecamnya.
Aksi berani Aura bermula dari video TikTok pribadinya @iam_auracinta, di mana ia menyuarakan keluhan atas kebijakan pemerintah, mulai dari larangan motor hingga penggusuran rumah di bantaran sungai kawasan Cikarang.
“Lucu ya katanya pembangunan tapi yang dikorbanin rakyat kecil, proyek-proyek besar terus diluncurin, mulai dari larangan motor, sekolah tanpa wisuda, bahkan bendungannya bikin warga terusir dari rumahnya, katanya untuk rakyat tapi kenapa justru rakyat kecil yang dikorbanin,” ujar Aura.
Pernyataannya yang lantang sontak menyedot perhatian publik, dengan tayangan video yang menembus lebih dari 10 juta views dan 80 ribu komentar.
Namun di balik popularitas itu, gelombang kritik datang menghantam.
Akun @lambe_turah membongkar jejak digital Aura sebagai model iklan aplikasi pinjaman online, yang memicu sindiran tajam dari netizen.
“Pantes dia pengen wisuda SMA diadain, biar laku kali pinjolnya,” sindir akun @zuldfikarrr.
Komentar serupa juga datang dari @mayangray, “Waaduh model pinjol juga, harusnya ada ketentuan hukum ya, masa bocil jadi model pinjol.”
Dalam program Nusantara TV, Aura Cinta angkat bicara.
Ia menegaskan bahwa dirinya hanya ingin menyuarakan hak kemanusiaan warga yang digusur.
“Saya ingin menyuarakan hak rasa kemanusiaan untuk ke depannya, termasuk orang tua saya sendiri,” katanya.
Aura juga mengungkap pengalaman tak menyenangkan saat penggusuran, yang menurutnya disertai intimidasi dari pihak yang disebutnya sebagai preman.
“Karena tiba-tiba nggak ada musyawarah, tujuannya untuk apa itu belum jelas, tiba-tiba Satpol PP dateng ngasih SP beberapa kali sampai ada preman yang sedikit mengintimidasi,” kata Aura.
Lebih lanjut ia mengatakan, “Premannya kalau nggak salah bawaan Pemda, mereka mengintimidasi karena warga sekitar cuma minta penjelasan penggusuran itu untuk apa tapi preman ini angkat tangan ‘saya cuma melaksanakan tugas, namanya digusur bapak kan tinggal di tanah negara silahkan pergi’,” lanjutnya.
“Tapi setidaknya harus ada penjelasan dong memanusiakan manusia jangan langsung disuruh pergi kayak hewan,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam video pertemuan dengan Dedi Mulyadi yang diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Aura tetap berusaha menyampaikan aspirasinya.
“Mohon maaf ya pak saya bukan menolak kebijakan bapak, jangan dihapus pak, gak semua orang bisa terima,” ucapnya terkait larangan wisuda sekolah.
Dedi pun merespons dengan santai, “Terima kasih sudah mengkritik. Makanya saya undang. Biasa, namanya anak muda, kritis, bagus, tapi harus objektif.”
Namun, lewat wawancara di sebuah kanal berita televisi, Aura justru merasa dijebak.
“Oh, waktu itu awalnya datang ke sana kan diundang. Saya pikir bakal ngebahas tentang masalah pengelusuran. Nggak tahunya malah ditembak ke masalah wisuda. Dan itu tuh aku nggak ada sama sekali. Nggak tahu kalau misalnya topik itu bakal ke wisuda,” katanya. (lz)
Editor : Laila Zakiya