SOLOBALAPAN.COM - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di dunia media masih terus bergulir.
Setelah momen haru perpisahan program Kompas Sport Pagi yang viral dan menyisakan luka bagi para karyawan serta penontonnya, kini giliran iNews TV yang melakukan langkah serupa.
MNC Group resmi menutup operasional Biro Jawa Timur iNews TV dan mem-PHK seluruh karyawan yang bekerja di sana.
Kabar ini pertama kali mencuat melalui unggahan video TikTok dari akun @okkyarisandy, salah satu karyawan yang terdampak.
“Hari ini resmi sudah, iNews TV MNC Media Biro Jawa Timur tempat aku dan teman-teman mencari penghidupan, Ditutup,” tulisnya dalam unggahan video yang diunggah pada Jumat, 2 Mei 2025.
Tak hanya menyampaikan kabar duka itu, Okky juga membagikan isi hatinya.
Ia mencoba tetap kuat meski harus menghadapi kenyataan pahit tersebut.
“Sedih sudah pasti. Tapi aku harus kuat. Aku harus berdiri. Demi anak dan istriku yang jadi penyemangat,” tambahnya.
Sejumlah warganet pun memberikan komentar penuh empati dan kekesalan terhadap fenomena ini.
Salah satunya akun @Ichal1974 yang menyebut, “Setelah Kompas TV, sekarang MNC. Mana yang janji 19 juta lapangan kerja itu?”
Sedangkan akun @Shiz mbelink menanggapi dengan nada sindiran, “Aku bangga sama Prabowo dengan badai PHK ini.”
Fenomena ini jelas menunjukkan bahwa krisis industri media belum mencapai titik terang.
Sebelumnya, Kompas TV juga melakukan PHK sebagai bagian dari restrukturisasi internal perusahaan.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat presenter senior Gita Maharkesri menyampaikan salam perpisahan dalam siaran terakhir Kompas Sport Pagi.
“Tak terasa inilah akhir perjalanan panjang Kompas Sport Pagi selama hampir 12 tahun. Kami hadir menemani Anda dengan berbagai macam berita olahraga, baik dari dalam maupun luar negeri, serta kabar inspiratif dari atlet kebanggaan Indonesia dan dunia,” ujarnya dengan suara bergetar.
Langkah PHK yang diambil baik oleh Kompas TV maupun iNews TV sama-sama beralasan efisiensi.
Di tengah tekanan keuangan, turunnya pendapatan iklan, dan migrasi masif konsumsi informasi ke media digital seperti YouTube dan TikTok, televisi konvensional semakin kehilangan daya saing.
Restrukturisasi dan perampingan organisasi menjadi opsi yang terpaksa diambil.
Namun, keputusan tersebut tetap menyisakan dampak besar bagi para pekerja yang kehilangan mata pencaharian, identitas, dan rutinitas profesional mereka. (LZ)