Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Setelah Wafatnya Paus Fransiskus, Siapa yang Akan Jadi Penerusnya? Ini Daftar Kandidat Kuat dari Berbagai Benua

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 23 April 2025 | 01:00 WIB
Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus menyapa para pemuda dari Scholas Occurrentes Indonesia di Graha Pemuda Komplek Gereja Katedral, Jakarta, Rabu (4/9/2024).
Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus menyapa para pemuda dari Scholas Occurrentes Indonesia di Graha Pemuda Komplek Gereja Katedral, Jakarta, Rabu (4/9/2024).

SOLOBALAPAN.COM - Kabar wafatnya Paus Fransiskus pada Senin, 21 April 2025, menandai berakhirnya era kepemimpinan yang dikenal penuh empati, reformasi, dan keberpihakan pada kaum marjinal.

Sebagai Paus pertama dari Amerika Latin, ia telah mengarahkan Gereja Katolik pada jalur progresif—mulai dari keadilan sosial hingga isu lingkungan dan inklusivitas.

Kini, sorotan dunia tertuju ke Vatikan, tempat Dewan Kardinal akan segera berkumpul dalam konklaf suci untuk memilih pemimpin spiritual baru bagi 1,37 miliar umat Katolik global.

Proses ini tidak hanya akan menentukan siapa yang akan duduk di Takhta Suci, tetapi juga mengindikasikan apakah arah reformasi Fransiskus akan berlanjut atau justru berbalik ke konservatisme tradisional.

Pengaruh Paus Fransiskus Masih Membekas

Selama masa jabatannya, Paus Fransiskus menunjuk lebih dari 100 kardinal yang kini memiliki hak suara dalam konklaf.

Langkah ini memperbesar peluang diteruskannya visi reformis sang Paus, seperti diungkap Cristina Traina dari Universitas Northwestern.

Namun, Ulrich Lehner dari Universitas Notre Dame menyoroti adanya tantangan tersendiri.

Menurutnya, gaya kepemimpinan Fransiskus yang cenderung soliter menyebabkan kurangnya ikatan interpersonal di antara para kardinal, yang dapat mempersulit proses konsensus dalam memilih penerus.

Kandidat Kuat Pengganti Paus Fransiskus

Berikut beberapa nama yang muncul dalam spekulasi sebagai kandidat potensial pengganti Paus Fransiskus, atau yang dikenal dengan sebutan papabili.

Luis Antonio Tagle (Filipina)

Usia: 67 tahun
Asal: Asia

Tagle dikenal sebagai sosok yang karismatik dan progresif, dengan rekam jejak kuat dalam mendorong Gereja yang inklusif dan misionaris.

Saat ini ia menjabat di posisi penting di Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa.

Kedekatannya dengan Paus Fransiskus serta latar belakangnya sebagai tokoh dari Asia—benua dengan pertumbuhan Katolik yang pesat—membuatnya jadi salah satu kandidat paling diperhitungkan.

Peter Turkson (Ghana)

Usia: 76 tahun
Asal: Afrika

Turkson dikenal luas sebagai pembela isu-isu keadilan sosial dan lingkungan.

Pernah memimpin departemen yang menangani pengembangan manusia integral, ia menjadi suara lantang dalam isu perubahan iklim dan kemiskinan.

Jika terpilih, Turkson bisa menjadi Paus Afrika pertama dalam hampir 1.500 tahun—sebuah langkah simbolis sekaligus substansial menuju Gereja yang lebih global.

Pietro Parolin (Italia)

Usia: 70 tahun
Asal: Eropa

Sebagai Sekretaris Negara Vatikan sejak 2013, Parolin memiliki pengalaman diplomatik dan birokratis yang sangat mumpuni.

Ia memainkan peran penting dalam negosiasi Vatikan dengan Cina dan berbagai negara lain.

Parolin dikenal moderat secara teologis dan dianggap sebagai sosok yang mampu menjaga stabilitas Vatikan sembari tetap membuka ruang reformasi.

Peter Erdő (Hongaria)

Usia: 72 tahun
Asal: Eropa Timur

Erdő adalah tokoh konservatif yang dikenal dengan keteguhan dalam mempertahankan ajaran tradisional Gereja.

Sebagai ahli hukum kanon, ia pernah memimpin Dewan Konferensi Uskup Eropa.

Ia menjadi pilihan favorit bagi mereka yang menginginkan Gereja kembali ke jalur konservatif seperti di masa kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI.

Angelo Scola (Italia)

Usia: 82 tahun
Asal: Eropa

Scola adalah nama lama yang sempat disebut sebagai kandidat kuat dalam konklaf 2013.

Ia dikenal sebagai pemikir teologis yang mendalam dan memiliki rekam jejak panjang sebagai Uskup Agung Milan.

Meski usianya mungkin menjadi faktor penghambat, pengaruhnya di kalangan kardinal tradisionalis masih cukup kuat.

 

Dengan kandidat yang datang dari berbagai belahan dunia, dari Asia hingga Afrika, peluang terbuka lebar bagi Gereja untuk menunjukkan komitmennya pada keragaman dan keterlibatan global yang lebih dalam.

Keputusan yang akan diambil para kardinal dalam konklaf mendatang akan menjadi momen sejarah yang tak hanya berdampak pada umat Katolik, tapi juga dunia secara luas. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#kandidat #paus fransiskus #benua #wafat