SOLOBALAPAN.COM - Kasus rudapaksa yang dilakukan oleh Priguna Anugerah Pratama, dokter residen dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), telah mengguncang dunia pendidikan kedokteran dan pelayanan medis di Indonesia.
Bukan hanya berdampak pada pelaku, tindakan bejat ini menyeret seluruh sistem pendidikan yang menaunginya ke dalam sorotan tajam.
Kementerian Kesehatan melalui Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengumumkan penghentian sementara Program PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif di lingkungan Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung selama sebulan.
Langkah ini diambil sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan pembinaan di lingkungan pendidikan dokter spesialis.
Tak hanya menghentikan program, Kemenkes juga memerintahkan agar dilakukan pemeriksaan psikologis terhadap rekan-rekan PPDS Priguna.
Pemeriksaan ini akan dilakukan menggunakan metode Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), bekerja sama dengan kolegium anestesi, guna memastikan bahwa para peserta PPDS tak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga sehat mental dan emosional.
"Tes mental untuk peserta pendidikan (dokter spesialis) tak hanya mereka pintar, tapi juga sehat secara jasmani dan rohani supaya mereka bisa melaksanakan tugas dokter yang mulia itu," kata Dante.
Langkah ini dinilai sebagai pintu masuk untuk mengungkap kemungkinan adanya penyimpangan lain yang selama ini luput dari perhatian.
Kasus Priguna menjadi cermin serius tentang perlunya reformasi mendalam dalam dunia pendidikan kedokteran, terutama dalam aspek pembinaan etika, moral, dan kepribadian peserta didik.
Diketahui, Priguna sendiri melakukan aksi rudapaksanya terhadap seorang pendamping pasien yang sedang menjaga ayahnya di ICU RSHS.
Ia membawa korban ke ruangan kosong di lantai 7, menyuntikkan cairan bius sebanyak 15 kali hingga korban tak sadarkan diri, lalu melakukan tindak kekerasan seksual.
Barang bukti berupa kantong plastik berisi obat bius dan kondom berisi cairan sperma ditemukan di lokasi kejadian.
Priguna kini telah ditahan sejak 28 Maret 2025 dan dikeluarkan dari program PPDS Unpad.
Dampak dari kasus ini jelas tak berhenti pada pelaku semata.
Evaluasi menyeluruh terhadap peserta lain berpotensi membuka fakta-fakta baru tentang 'kenakalan' tersembunyi di balik jalur pendidikan dokter spesialis yang selama ini dianggap eksklusif dan prestisius.
Jika terbukti ada kasus lain, ini bisa menjadi babak baru dalam upaya membersihkan dunia kedokteran dari potensi penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. (lz)
Editor : Laila Zakiya