Bukan soal substansi tuntutan, melainkan karena unggahan seorang warganet bernama Sarah yang menyoroti penampilan salah satu peserta aksi.
Aksi ini sendiri sudah berlangsung hampir tiga pekan dan digelar dengan cara berkemah di depan Gerbang Pancasila, Gedung DPR RI.
Terlihat sejumlah tenda berwarna merah dan hitam berdiri di pinggir Jalan Gelora, lengkap dengan tikar, buku, dan aktivitas santai layaknya sedang piknik.
Namun yang justru menyita perhatian publik di media sosial adalah salah satu unggahan akun @sarah_pndjtn.
Dalam unggahan tersebut, Sarah menyoroti sebuah tas berwarna cokelat yang dikenakan oleh salah satu peserta aksi dan menuliskan, "Bagus juga tas nya.. ????????????????".
Bukan sekadar komentar iseng, Sarah juga menyertakan tangkapan layar dari situs penjualan yang menunjukkan tas serupa bermerek Tory Burch yang dibanderol seharga Rp13.300.000.
Unggahan itu sontak menyulut perdebatan panas di media sosial, terutama di platform X (dulu Twitter).
Hingga Selasa (8/4) siang pukul 13.02 WIB, tagar Sarah telah menjadi trending topic dengan lebih dari 88.900 postingan. Postingan Sarah sendiri dibanjiri lebih dari 1.200 komentar.
Beberapa netizen menganggap bahwa unggahan Sarah mengandung nada menyindir atau mencurigai motif para pendemo.
Namun, sebagian besar justru membela peserta aksi. Berikut beberapa respons warganet:
“Marahi dia @grok, karena iri pendemo kalangan orang mampu yang g perlu 50k per demo.” tulis @azp__.
“Loh kalo bener itu tasnya bagus dong berarti demonya memang didukung berbagai kalangan.” komentar @shandya.
“Belom liat aja itu tas goyard, nars concealer, lipbalm ysl, sama perfume twilly d’hermes eau poivree kalo digabung harganya berapa.” sambung akun @dojaneko.
“Ya artinya mematahkan argumen presiden yg bilang mereka dibayar kan, ya kali mbaknya dibayar 50rebuan.” tambah @_cing.
“Ga sekalian cari harga tas yang di sudut kanan bawah juga? Looks like goyard to me or at least christy ng.” tulis pemilik akun @koukoseitantei.
Alih-alih memperlemah legitimasi aksi, komentar Sarah justru dianggap oleh banyak pihak sebagai penguat bahwa gerakan tersebut benar-benar berasal dari kesadaran sipil, bukan karena bayaran.
Para pendukung aksi menyebut bahwa banyak peserta demonstrasi adalah bagian dari kelas menengah yang sadar isu, dan tidak mungkin mau turun ke jalan hanya untuk "nasi kotak". (lz)