SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Sosok Lisa Mariana kembali menjadi sorotan publik usai pengakuannya yang menghebohkan soal hubungan dengan mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.
Dalam sebuah perbincangan yang terekam bersama Pablo Benua, Lisa blak-blakan menyebut dirinya tak bisa disamakan dengan Atalia Praratya, istri sah Ridwan Kamil.
Lisa menegaskan bahwa dirinya tak berniat menyaingi Atalia.
Ia mengakui secara terbuka perbedaan kelas dan latar belakang antara dirinya dan perempuan yang akrab disapa Bu Cinta itu.
"Aku juga nggak menyaingi diriku sama ibu. Nggak mungkin, beda banget. Kayak bumi dan langit dari segi pendidikan. Aku kan cuma lulusan SMA," ujar Lisa dalam rekaman yang dibagikan Pablo.
Pernyataan ini muncul ketika Pablo mempertanyakan alasan Lisa memilih membuka masalah ini ke publik, meskipun tahu hal itu bisa memengaruhi psikologis keluarga Ridwan Kamil, terutama Atalia dan anak-anak mereka.
"Kalau aku sebagai suami, bukan aku ngebelain Ridwan Kamil ya. Tapi pada posisinya, kamu kan pada saat ungkap itu di sosmed, dampaknya pasti ke keluarganya, ke istrinya secara psikologi, ke anaknya," kata Pablo.
Namun Lisa justru membalas dengan nada tajam.
"Ya ngapain. Terus kalo aku kasihan sama Ibu Atalia, siapa yang kasian sama aku?" balasnya.
Pernyataan itu langsung memantik reaksi netizen yang menyebut Lisa tidak memiliki empati terhadap keluarga Ridwan Kamil.
Di sisi lain, Lisa Mariana juga merespons dugaan rekaman percakapan tentang permintaan uang dan tawaran tes DNA yang beredar di media sosial. Ia dengan tegas menyatakan bahwa suara perempuan dalam video tersebut bukanlah suaranya.
"Guys, ini bukan suara aseli aku," tulis Lisa dalam unggahan Instagram-nya @lisamarianaaa.
Sementara itu, Ridwan Kamil sendiri telah menanggapi isu tersebut dan menyebutnya sebagai fitnah bermotif ekonomi.
Ia menegaskan akan membawa kasus ini ke ranah hukum dan telah menunjuk kuasa hukum untuk menanganinya.
Kasus ini masih terus berkembang dan memancing rasa penasaran publik.
Terutama soal tes DNA yang sempat disebut dalam rekaman serta validitas bukti-bukti yang sudah dan akan disampaikan. (lz)
Editor : Laila Zakiya