SOLOBALAPAN.COM - Lebaran tahun ini diramaikan oleh berbagai tren menarik di media sosial, salah satunya adalah tren bagi-bagi THR yang disertai dengan tarian unik dan lagu yang enerjik.
Banyak warganet turut serta dalam tren ini sebagai bentuk keceriaan dan perayaan Idul Fitri 1446 H.
Namun, di tengah popularitasnya, tarian THR mendadak menuai kontroversi.
Sebuah unggahan viral menyebut bahwa tarian dan musik yang digunakan dalam tren tersebut memiliki kemiripan dengan tradisi bangsa Yahudi.
Klaim ini pertama kali disebarkan oleh sebuah akun bernama Sampit yang menuliskan:
“Ternyata Tarian dan Musik ini berasal dari tradisi Yahudi, kini tarian dan musik tersebut sedang trend di Indonesia untuk digunakan sebagai trend Joget bagi-bagi THR.”
Pernyataan ini sontak memancing reaksi dari warganet. Perdebatan pun bermunculan, mulai dari yang mendukung hingga yang mempertanyakan keakuratan informasi tersebut.
Salah satu figur publik yang turut menanggapi isu ini adalah Bunda Corla, seorang influencer asal Indonesia yang cukup dikenal dengan sikap tegasnya.
Melalui akun Instagramnya, @corla_2, ia mengunggah video tarian yang sedang ramai tersebut dan meluruskan informasi yang beredar.
"Biar tidak keliru yang lagi di ikutin trending bagi-bagi THR, ini aslinya Joget dari Negara FINLANDIA, bukan dari Negara manapun sekalipun Yahudi, Turki, Mesir atau nenek moyang kau paham?" tulisnya.
Bunda Corla juga menegaskan bahwa tarian ini bukanlah bagian dari ritual, budaya, apalagi ajaran keagamaan tertentu.
“Dance/nari yang tidak ada kaitannya dengan pemujaan, budaya, tradisi, apalagi agama. Jangan gila tar gila beneran.
Ini Joget ala ala happy time saat pesta remaja tahun 1960. Bukan ritual cari tumbal. Hati-hati menyebarkan berita bohong/fitnah hanya karena tidak suka oleh satu kepercayaan, dibuatlah propaganda.”
Hingga saat ini, belum ada bukti kuat atau informasi resmi yang mengonfirmasi asal-usul pasti dari musik dan tarian yang digunakan dalam tren THR ini.
Yang jelas, tren ini bermula sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan di momen Lebaran dan tidak memiliki muatan keagamaan atau ideologi tertentu.
Di era digital seperti sekarang, penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dan kritis dalam menerima serta membagikan informasi.
Mengaitkan ekspresi seni dan budaya pop dengan isu sensitif tanpa dasar yang kuat hanya akan memicu salah paham dan konflik yang tidak perlu.
Mari kita nikmati hiburan dengan bijak dan tetap menjaga kerukunan dalam perbedaan. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo