Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Street Art Performance Solo is Solo: Ruang Kreatif yang Bikin Musisi dan Penonton Dekat Tanpa Sekat

Maulida Afifa Tri Fahyani • Sabtu, 5 April 2025 | 15:42 WIB
Solo is Solo, Gatsu Night Market.
Solo is Solo, Gatsu Night Market.

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Tampil di panggung Street Art Performance Solo is Solo jadi pengalaman seru buat grup musik asal Solo, Eternal Band.

Acara yang digelar di kawasan Ngarsopuro ini jadi ajang yang pas buat mereka nunjukin karya ke publik lebih luas.

Salah satu personel Eternal Band, Chaestro Edgar, bilang ini pertama kalinya mereka tampil di Solo is Solo, beberapa minggu lalu.

"Sangat menyenangkan. Ditambah audience yang membawakan energi positif sehingga kami dari pemusik juga ikut menikmati,* katanya.

Menurut Edgar, panggung Solo is Solo punya daya tarik tersendiri karena para musisi bisa langsung interaksi sama penonton.

Suasana pun jadi makin hidup karena interaksi itu dapet banget respons dari para pengunjung.

"Apalagi warga Solo yang melintas di sekitar Ngarsopuro juga turut mendengarkan, meskipun hanya sekilas," tambahnya.

Edgar juga cerita kalau Solo is Solo berpengaruh besar buat eksistensi band-nya yang baru mulai naik daun.

Menurutnya, ini bukan cuma event musik biasa, tapi wadah penting buat musisi lokal ngenalin karya mereka.

"Sangat enjoy. Mungkin pada lagu pertama sedikit canggung karena setting sound belum terlalu maksimal tetapi setelah pertengahan acara, dari kami harus berusaha semaksimal mungkin. Penonton sangat menikmati penampilan kami dan beberapa kali saya lihat ada audiens yang ikut menyanyikan lagu yang kami bawakan," terangnya.

Dari sisi penonton, antusiasnya juga nggak kalah.

Seperti yang diungkapkan Mega Putri (28), salah satu pengunjung Solo is Solo pada Jumat (7/3).

Mega bilang dia menikmati banget pertunjukan musik di sana.

live Music di Koridor Gatsu Solo Is Solo Art
live Music di Koridor Gatsu Solo Is Solo Art

"Seru sih, kalau saya suka jenis musiknya, saya pasti menikmati pertunjukannya. Bahkan saya ikut bernyanyi jika ada lagu yang saya suka," ucapnya.

Senada, Ahmad (25), penikmat musik yang rutin nongkrong di Solo is Solo juga kasih pendapatnya.

"Saya suka dengan konsep musik di ruang publik seperti ini. Walaupun ada beberapa kekurangan dalam hal sound system, tapi overall, saya rasa ini sudah sangat positif," ujarnya.

Buat pengunjung seperti Mega dan Ahmad, Solo is Solo bukan cuma tempat dengerin musik.

Tapi juga jadi ruang seru buat interaksi langsung sama para musisi—pengalaman yang menurut mereka nggak bisa didapet di tempat lain.

Ahmad bahkan ngasih saran, ke depan Solo is Solo bisa hadirin lebih banyak genre musik, termasuk musik tradisional kayak karawitan, yang menurutnya jadi kekayaan budaya Solo yang nggak boleh hilang. (lz)

Editor : Laila Zakiya
#Solo is solo #gatot subroto #street art