Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Pakem Tayub Sragen: 4 Kiblat 5 Pancer dalam Tarian Khas yang Penuh Makna, Tak Sekadar Menggoda tapi Sarat Makna

Ahmad Khairudin • Jumat, 4 April 2025 | 19:44 WIB
Seni Tayub.
Seni Tayub.

SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Seni tayub, salah satu warisan budaya Jawa yang kaya akan filosofi dan nilai tradisi, kini sedang menghadapi tantangan besar di era modern.

Padahal dulu, tayub sempat jadi bagian penting dari kehidupan masyarakat agraris di Sragen.

Kini, pamornya mulai meredup, ditambah lagi dengan minimnya regenerasi pelaku seni.

Heru Agus Santoso, seniman tari asal Sragen, bilang kalau tayub bukan cuma milik Sragen saja.

"Ada di Sragen, Grobogan, Blora, Ngawi, Malang, Trenggalek bahkan sampai Sumenep Madura," jelasnya.

Tapi, Sragen tetap punya kekhasan tersendiri dalam pakem tayubnya.

Mulai dari jumlah penari laki-laki, karakter musik pengiring, sampai kostum khas ledhek atau penarinya.

"Dulu, Sragen merajai sektor ledek. Namun sekarang, banyak ledek yang berasal dari Grobogan," tambahnya.

Meski begitu, Heru bersyukur karena seni tayub masih eksis di beberapa wilayah Sragen, terutama di kawasan utara Bengawan Solo.

Ia juga menyoroti perubahan dalam tayub yang berkembang sekarang, yang menurutnya agak berbeda dari pakem tayub khas Sragen.

Mulai dari jumlah penari, musik, sampai gaya kostumnya sudah banyak berubah.

Heru menjelaskan bahwa Tayub Sragen punya struktur yang unik.

Penarinya cuma lima orang laki-laki: satu di tengah sebagai punjer, dan empat lainnya sebagai lareh yang berdiri di empat penjuru arah mata angin.

Pola ini menggambarkan filosofi Jawa tentang empat kiblat lima pancer—yakni empat sifat dalam diri manusia seperti amarah, sufiah, mutmainah, dan aluamah.

Untuk kostum, Sragen juga punya gaya sendiri.

Kalau Ledhek Grobogan biasanya pakai kebaya lengan pendek, Ledhek Mantingan kebaya lengan panjang, maka di Sragen penarinya justru tampil dengan kemben.

“Sehingga ada kekhasan khusus. Gending dan kostumnya beda. Jadi lebih menggoda dan menggemaskan. Tapi tetap diugemi,” ujar Heru.

Heru juga berharap generasi muda Sragen bisa lebih mencintai dan ikut menjaga kelestarian tayub sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

Soal kontroversi, Heru tidak menutup mata.

Dia mengakui kalau dalam tayub memang ada hal-hal yang pro dan kontra, seperti kehadiran minuman keras (miras).

“Sebenarnya yang minum, kalau kita menyebutnya Ciu, yang minum punjernya saja. Setelah menerima satu sloki, dikalungkan sampur dan ditarik ke Tengah arena untuk ikut menari. Miras itu juga melambangkan godaan juga,” jelasnya.

Tapi di balik semua itu, Heru menekankan bahwa tayub tetap punya nilai simbolik yang dalam.

“Tayub ini melambangkan kesuburan, keharmonisan, keindahan. Tetapi ada godaan dalam hal tersebut. Termasuk miras yang disuguhkan, filosofinya bagian dari godaan,” tutupnya. (din/lz)

Editor : Laila Zakiya
#tradisi #sragen #seni tayub #pakem