Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Dari Jaket Parka ke Sneakers: Gaya Anak Skena Lahir dari Coffee Shop

Fauziah Akmal • Kamis, 3 April 2025 | 18:25 WIB
Fashion skena merambah Kota Solo.
Fashion skena merambah Kota Solo.

SOLOBALAPAN.COM - Menurut Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Shubuha Pilar, nongkrong di coffee shop sekarang udah jadi bagian penting dari identitas anak skena, termasuk juga ekspresi fashion mereka.

Tren ini bukan muncul tiba-tiba, tapi karena adanya interaksi sosial yang terus berkembang bareng gaya hidup urban yang makin modern.

"Tren selalu ada dalam kehidupan masyarakat, dan coffee shop menjadi salah satu ruang dimana tren ini tumbuh dan berkembang," ujarnya.

Awalnya, coffee shop cuma kedai kecil berbasis komunitas dengan suasana rumahan yang cozy dan kursi terbatas.

Tapi karena banyak peminatnya, coffee shop berkembang jadi lebih besar, megah, bahkan sampai bisa bikin acara live music di pusat kota.

"Perkembangan ini berkaitan erat dengan bagaimana masyarakat memandang coffee shop, bukan hanya sebagai tempat menikmati kopi, tetapi juga sebagai ruang sosial dan simbol status tertentu," jelasnya.

Booming-nya coffee shop di berbagai kota juga nggak lepas dari budaya ngopi yang udah ada sejak zaman kolonial dulu, mengingat kopi adalah komoditas asli Indonesia, kayak tembakau.

"Dulu, tuan rumah akan menyajikan kopi atau teh panas sebagai tanda kehormatan bagi tamu yang datang. Kopi menjadi bagian dari budaya interaksi sosial yang kemudian berevolusi hingga ke coffee shop modern," imbuhnya.

Sekarang, buat anak muda urban, coffee shop nggak cuma buat minum kopi aja, tapi lebih dari itu.

Banyak anak muda, terutama mahasiswa atau pekerja kantoran yang tinggal di kos, pakai coffee shop buat nongkrong sama teman, ngerjain tugas, atau sekadar me-time.

"Utamanya, mahasiswa atau pekerja urban yang tinggal di kos-kosan, menjadikan coffee shop sebagai tempat untuk bertemu teman, atau bekerja. Bahkan hanya untuk menikmati waktu sendiri," jelasnya.

Banyak anak muda yang sering nongkrong di coffee shop dan punya gaya fashion tertentu karena mengikuti genre musik favorit mereka disebut anak skena.

Kata "Skena" sendiri adalah akronim dari bersua, bercengkrama, dan berkelana.

"Representasi kelana dalam skema komunitas di coffee shop itu bisa nonton bersama, festival musik, atau pergi ke mana-mana seperti anak gunung sehingga memakai jaket parka celana jeans, dan sebagainya," jelasnya.

Di coffee shop, komunitas anak skena ini tumbuh dan berkembang.

Mereka nggak cuma datang buat minum kopi, tapi juga buat mengekspresikan diri lewat fashion dan gaya hidup unik mereka.

"Anak skena kerap menggunakan coffee shop sebagai panggung eksistensi. Mereka hadir dengan fashion khas seperti jaket parka, celana jeans, sneakers tertentu, atau bahkan gaya vintage yang mencerminkan identitas mereka," katanya.

Lebih dari tempat ngumpul, coffee shop jadi ruang bertemu orang dengan minat yang sama, berbagi inspirasi, dan memperluas jaringan sosial.

Media sosial juga bikin hubungan coffee shop, fashion skena, dan budaya anak muda makin erat.

Banyak anak muda tahu gaya fashion bukan dari pengalaman langsung, tapi dari postingan-postingan di medsos.

"Coffee shop menjadi ruang publik untuk semua kepentingan termasuk yang datang ke sana perpustakaan pengetahuannya bertambah. Mereka lihat fashion pengunjung yang dikenakan, musik yang didengar. Sehingga, dia merepresentasikan diri turut dalam identitas itu sebagai anak kota," imbuhnya.

Selain itu, coffee shop juga jadi ruangnya komunitas musik indie dan subkultur lainnya.

Banyak coffee shop yang bikin acara live music kecil-kecilan buat daya tarik tambahan.

Ini mirip sama peran ruang alternatif musik punk dan hardcore di era 70-an dulu.

"Di masa lalu, musik punk dan indie berkembang di ruang-ruang yang tidak mainstream, dan sekarang coffee shop mengambil peran yang sama. Mereka menghadirkan gigs, pemutaran film indie, atau diskusi seni yang menarik bagi anak muda dengan selera berbeda," katanya.

Fenomena ini juga bikin anak muda punya pandangan baru soal fashion dan gaya hidup. Tren yang muncul di coffee shop akhirnya jadi identitas mereka sendiri.

"Kita bisa melihat bagaimana anak muda yang sering ke coffee shop memiliki ciri khas tertentu dalam berpakaian. Misalnya, ada yang mengadopsi gaya vintage, streetwear, atau bahkan mengadaptasi fashion dari komunitas musik yang mereka sukai," urainya.

Intinya, coffee shop nggak cuma tempat kumpul biasa, tapi jadi ruang budaya yang mempengaruhi cara anak muda berpakaian dan mengekspresikan diri.

Pada akhirnya, munculnya banyak coffee shop di perkotaan bukan cuma tren konsumsi biasa, tapi juga bagian dari dinamika sosial yang lebih besar.

Coffee shop jadi simbol gimana anak muda mencari ruang buat berinteraksi, berekspresi, dan membangun identitas mereka di tengah perubahan zaman.

"Coffee shop tidak hanya soal kopi, tetapi juga tentang bagaimana anak muda menciptakan ruang mereka sendiri di tengah kota yang terus berkembang," tandasnya. (zia/lz)

 
Editor : Laila Zakiya
#Anak skena #coffee shop #kota solo