Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Menjaga Warisan Leluhur, Tayub Sragen Perlu Dukungan Pemerintah

Ahmad Khairudin • Selasa, 1 April 2025 | 16:20 WIB
Seni Tayub.
Seni Tayub.

SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah gemerlapnya era modern, tradisi kuno masih tetap hidup di Kabupaten Sragen.

Tari Tayub, dengan penari utamanya yang disebut ledhek, bukan cuma tarian biasa.

Tayub jadi cerminan kekayaan budaya, nilai sosial, dan spiritualitas masyarakat Sragen.

Setiap gerakan gemulai sang ledhek yang memakai kostum tradisional Jawa, menggambarkan cerita panjang tentang sejarah dan kehidupan masyarakat setempat.

Musik gamelan yang mengiringi—dari gong, kenong, sampai saron—bukan sekadar pelengkap, tapi bikin penonton seperti diajak masuk ke dalam pengalaman spiritual yang dalam.

"Tari Tayub ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan dan spiritualitas yang kental dalam budaya Sragen," ungkap Sri Wahono, tokoh masyarakat Tangen.

Menurutnya, Tari Tayub punya peran penting dalam berbagai acara adat di Sragen, khususnya di wilayah utara Bengawan Solo.

"Saya kalau jagong (datang ke tempat orang yang punya hajat pernikahan) di utara Bengawan, pasti yang ditampilkan adalah seni Tayub. Tanpa Tayub, orang yang punya kerja rasanya ada yang kurang," tuturnya.

Tapi Sri Wahono sadar, kesenian ini perlu usaha lebih buat dijaga.

Pemerintah dan masyarakat harus ambil bagian dalam melestarikan Tayub sebagai warisan budaya khas Sragen.

"Seni Tayub itu luar biasa. Mari kita coba untuk menggali apa yang kita miliki," ajaknya.

Sri Wahono berharap, lewat berbagai kegiatan yang berkelanjutan, masyarakat Sragen makin paham dengan kekayaan intelektual yang mereka punya.

"Semoga kegiatan ini berkelanjutan agar masyarakat Sragen lebih paham lagi apa itu kekayaan intelektual," harapnya.

Tayub dengan segala nilai dan keindahannya memang warisan budaya yang nggak ternilai.

Sudah seharusnya kita, generasi sekarang, menjaga dan melestarikannya supaya tetap hidup dan nggak dilupakan zaman.

Desakan soal pentingnya pelestarian Tayub juga datang dari kalangan seniman.

Mereka menilai, Tayub sebagai warisan budaya yang penuh filosofi dan tradisi butuh dukungan nyata dari pemerintah biar bisa terus bertahan.

Mantan Ketua Dewan Kesenian Sragen, Heru Agus Santoso bilang kalau Tayub punya potensi besar buat jadi daya tarik wisata budaya Sragen.

Sayangnya, potensi ini belum tergali maksimal karena dukungan pemerintah masih kurang.

"Sragen tidak punya potensi alam yang menjadi daya tarik, seperti gunung atau pantai. Saya tawarkan rekayasa masa depan, merekayasa tempat yang tidak punya unggulan alam, bisa menghadirkan orang-orang. Salah satunya lewat kesenian. Tayub ada di dalamnya," ujarnya.

Heru juga berharap, bupati baru bisa kembali menggelar festival Tayub antar kecamatan seperti dulu.

Festival ini bisa jadi wadah bagi sanggar-sanggar seni di tiap kecamatan buat tampil dan melestarikan Tayub pakem Sragenan.

Nggak cuma itu, pembinaan sumber daya manusia (SDM) di bidang Tayub juga penting banget.

Heru berharap pemerintah bantu para seniman dan budayawan yang mau serius melestarikan Tayub.

"Persoalan SDM menjadi yang utama. Sragen kekurangan pegiat. Orang yang mau berkorban atau mengikhlaskan hidupnya tidak banyak. Tapi juga harus ada gayung bersambut dari pemerintah," tegasnya.

Ia juga mengakui kalau sebenarnya Sragen cukup dekat dengan akses pendidikan seni seperti ISI Surakarta.

"Sebenarnya sudah ada gerakan dari akademisi. Sayangnya di grassroots masih sangat kurang pegiatnya," terangnya.

Heru pun berharap dengan dukungan pemerintah, seni Tayub di Sragen bisa terus hidup, berkembang, dan jadi kebanggaan masyarakatnya. (din/lz)

Editor : Laila Zakiya
#budaya #Tari Tayub #sragen