SOLOBALAPAN.COM - Nama Rifqi Rafsanjani, anggota DPRD Kabupaten Pandeglang, terus menjadi sorotan publik setelah viralnya pengakuan dari akun Instagram @meysinputri_.
Perempuan ini menyebut dirinya sebagai korban kekerasan sekaligus penyalahgunaan identitas untuk pinjaman online (pinjol).
Sebelumnya, Mey mengunggah bukti-bukti kekerasan serta utang pinjol yang dibuat Rifqi menggunakan data pribadinya.
Ia mengaku telah lama menahan diri dan akhirnya memilih speak up karena tidak tahan dengan tekanan dan ancaman yang dialaminya.
Baca Juga: Pilih Realistis, Maverick Vinales Ungkap Targetnya di Balapan MotoGP Amerika 2025
"saya sebagai korban (mantan pacar beliau) mendapatkan kekerasan selama menjalin hubungan, identitas pribadi saya dipakai untuk Pinjaman Online (PINJOL) yg tidak dibayar bila sudah jatuh tempo.," tulisnya dalam salah satu unggahan.
Usai viral, Rifqi rupanya mencoba menghubungi kembali sang mantan pacar.
Dalam percakapan pribadi yang diunggah @meysinputri_, Rifqi tampak memohon agar unggahan-unggahan itu dihapus. Ia juga menyatakan kesediaannya membayar utang pinjol sebagai gantinya.
"Tolong dipikirin lagi ya soal postingannya, sekarang gue bayarin ya pinjolnya tapi tolong postingannya dihapus," tulis Rifqi.
Namun, respons dari Mey menunjukkan bahwa masalah ini lebih dari sekadar uang.
Ia menegaskan bahwa harga diri dan luka emosional yang ia alami tidak bisa ditutup dengan janji pembayaran semata.
"Gue gak marah ke lu Jey, gue cuma harga diri gue jatuh. Seberapa banyak kesabaran gue selama ini, Jey, bayangin sama lo," balas Mey.
Dalam pesan lainnya, Rifqi bahkan mengaku tak sanggup jika jabatannya sebagai anggota dewan benar-benar dicabut.
"Gue hilang arah banget kalau misal sampai dicabut," tulisnya.
Publik pun mempertanyakan kelayakan seorang wakil rakyat jika terbukti melakukan kekerasan dan menyalahgunakan data pribadi.
Baca Juga: Debut Menawan Bersama Timnas Indonesia Kalahkan Bahrain, Begini Reaksi Joey Pelupessy
Saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak DPRD Pandeglang terkait status Rifqi Rafsanjani.
Namun, tekanan dari masyarakat agar dilakukan investigasi menyeluruh terus bergema di media sosial.
Editor : Nindia Aprilia