Rizkil ditemukan tewas tergantung di rumahnya pada Senin (17/3/2025), dengan sebuah tulisan di tembok yang berbunyi, "Kejujuran sudah tidak berguna."
Sebelum kepergiannya, Rizkil diduga mengalami tekanan berat akibat kasus dugaan pencurian ponsel yang sebenarnya telah diselesaikan secara damai dengan pemiliknya.
Namun, meskipun laporan telah dicabut dan uang ganti rugi Rp2 juta telah diberikan kepada pemilik HP, kasus ini tetap diproses oleh oknum aparat Polsek Kayangan.
Dalam percakapan terakhirnya dengan Meta AI, yang ditemukan di ponselnya setelah kematiannya, Rizkil mencurahkan isi hatinya tentang tekanan yang dialaminya.
"Saya hanya mengakui bahwa berdasarkan CCTV, memang saya yang mengambil secara tidak sadar. Namun, polisi tidak menerima alasan itu," tulis Rizkil dalam percakapan tersebut, seperti dilansir dari Kompas.com.
Ayah Rizkil, Nasruddin, juga membenarkan bahwa anaknya merasa tertekan setelah dipulangkan dari kantor polisi.
"Anak kami tidak bunuh diri, tapi dibunuh mentalnya oleh oknum aparat itu," ujar Nasruddin, dikutip dari TribunLombok.com.
Menurut keluarga, Rizkil diminta membayar "uang pelicin" sebesar Rp15 juta agar kasusnya tidak berlanjut ke kejaksaan.
Jumlah itu kemudian melonjak menjadi Rp90 juta.
"Saya pikir ini yang mengakibatkan anak saya bunuh diri, karena depresi dengan tekanan oleh oknum aparat ini. Almarhum sering dihubungi lewat telepon," lanjut Nasruddin.
Kronologi Dugaan Pemerasan
Kasus ini bermula pada Jumat (7/3/2025) ketika Rizkil menumpang mengisi daya ponselnya di sebuah Alfamart.
Tanpa sadar, ia salah mengambil ponsel milik karyawan toko.
Setelah menyadari kesalahannya, ia segera mengembalikannya.
Namun, video CCTV kejadian tersebut sudah viral di media sosial, dan Rizkil langsung ditangkap oleh Polsek Kayangan dengan tuduhan pencurian.
Padahal, pihak Alfamart telah mencabut laporannya pada Sabtu (8/3/2025), dan warga Desa Sesait, termasuk kepala dusun, telah membuat surat perdamaian. Namun, proses hukum terhadap Rizkil tetap berlanjut.
"Warga merasa heran, mengapa masih harus diproses hukum padahal masalahnya sudah selesai," kata Kepala Dusun Tenggorong, Putradi.
Diduga, tekanan demi tekanan yang dialami Rizkil membuatnya putus asa, hingga akhirnya ia mengakhiri hidupnya pada Senin petang.
Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, membantah tuduhan bahwa ada oknum polisi yang memeras Rizkil Watoni.
"Tidak ada, itu hanya isu. Tidak ada polisi minta uang," tegas Agus, Selasa (18/3/2025).
Namun, kematian tragis ini justru memicu amarah warga.
Malam setelah kejadian, massa yang marah merusak Mapolsek Kayangan.
Bahkan, sempat ada rencana untuk menyerang Alfamart tempat Rizkil pertama kali dituduh mencuri, meski akhirnya berhasil dicegah.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik, bahkan viral jadi sorotan usai diunggah oleh akun X @kegblgnunfaedh. (lz)
Editor : Laila Zakiya