Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Siapa Chairil Anwar? Penyair Legendaris yang Puisinya Tampil di Kereta Bawah Tanah Seoul

Ragil Listiyo • Sabtu, 8 Maret 2025 | 21:49 WIB
Penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar.
Penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar.

SOLOBALAPAN.COM – Karya penyair Indonesia Chairil Anwar berjudul, “Aku” mejeng di Kereta Bawah Tanah di Kota Seoul. Puisi itu terpajang di kaca Stasiun Yeouido dan Stasiun Gangnam, Korea Selatan.

Chairil Anwar dikenal sebagai penyair yang kiprah hidup dan wafatnya tak terpisahkan dari perkembangan puisi modern Indonesia.

Karena peran besarnya, ia menjadi pelopor Angkatan 45 dalam Sastra Indonesia. Penyair legendaris ini lahir pada 22 Juli 1922 di Medan, Sumatra Utara.

Dilansir dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Chairil Anwar menjalani kehidupannya sebagai seorang penyair dan mengandalkan pendapatan dari menulis sajak.

Pada awal tahun 1948, ia sempat bekerja sebagai redaktur di majalah Gema Suasana. Namun, karena merasa kurang puas, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Setelah keluar dari Gema Suasana, Chairil bergabung dengan majalah Siasat dan menjadi pengasuh rubrik kebudayaan Gelanggang bersama Ida Nasution, Asrul Sani, dan Rivai Apin.

Selain itu, ia berencana mendirikan majalah kebudayaan bernama Air Pasang dan Arena. Sayangnya, hingga akhir hayatnya, rencana tersebut belum terwujud.

Chairil Anwar berasal dari keluarga berdarah Minangkabau. Orang tuanya berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat.

Chairil Anwar mulai menulis sejak tahun 1942 dengan menciptakan sajak berjudul Nisan. Ia terus berkarya hingga akhir hidupnya pada tahun 1949.

 

Dalam tahun terakhirnya, ia menghasilkan enam sajak, di antaranya Mirat Muda, Chairil Muda, Buat Nyonya N, Aku Berkisar Antara Mereka, Yang Terhempas dan Yang Luput, Derai-Derai Cemara, dan Aku Berada Kembali.

Ketekunan Chairil dalam menulis didukung oleh kegemarannya membaca puisi dari para sastrawan terkenal dunia.

Chairil hampir selalu menghabiskan waktunya dengan membaca, bahkan saat makan atau di tempat tidur. Ia tidak hanya membaca, tetapi juga berusaha memahami dan menerjemahkan karya-karya sastra asing.

Chairil menyalin dan menerjemahkan puisi dari berbagai penyair dunia seperti R.M. Rilke dari Jerman, H. Marsman dan E. du Perron dari Belanda, serta J. Slauerhoff dari Belanda. Ia juga menerjemahkan karya filsuf Jerman, Nietzsche.

Beberapa karyanya yang diadaptasi dari sastra asing antara lain Hari Akhir Olanda di Jawa yang merupakan terjemahan dari De Laatste Dag Der Hollanders op Jawa karya Multatuli, serta Kena Gempur yang diambil dari The Raid karya John Steinbeck. Selain itu, ia juga menerjemahkan Le Retour de l'enfant prodigue karya André Gide menjadi Pulanglah Dia Si Anak Hilang.

Selama enam setengah tahun berkarya, dari 1942 hingga 1949, Chairil Anwar berhasil menulis 71 sajak asli, dua sajak saduran, sepuluh sajak terjemahan, enam prosa asli, serta empat prosa terjemahan. Karyanya menjadi bagian penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern.(rgl)

Editor : Ragil Listiyo
#chairil anwar #biografi #korea selatan #penyair #Puisi Aku