SOLOBALAPAN.COM - Kebijakan makan bergizi gratis (MBG) selama bulan Ramadan 2025 yang diperkenalkan oleh pemerintah menuai reaksi keras dari berbagai pihak.
Menu yang didominasi oleh makanan olahan dan produk ultra-processed food (UPF) justru memicu kontroversi di kalangan orang tua hingga spesialis anak.
Menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, program MBG selama Ramadan menggunakan makanan yang tahan lama agar tetap layak konsumsi meskipun dibagikan dalam jumlah besar.
Beberapa menu yang disediakan antara lain susu, telur rebus, kurma, kue kering fortifikasi, buah, serta sesekali bubur kacang hijau atau kolak.
Dadan menegaskan bahwa program ini berlaku di seluruh daerah, termasuk bagi siswa yang non-Muslim.
Namun, kebijakan ini justru memicu polemik.
Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan kandungan gizi dalam makanan yang diberikan, terutama karena dominasi produk olahan.
Seperti selebgram @vendryana mengungkapkan kekecewaannya di Instagram:
"Yang bener ajaa.. Indonesia ga kekurangan ahli gizi kali ah. Pak @prabowo aku capek komen komplen terus di akun media media ???????????? yuk bisa yuk pak, Indonesia emas cemerlang gemilang."
Sementara itu, seoraang Sepsialis Anak pun turut mengkritisi kebijakan ini.
"Tepung, gula, karbo ???? Beneran? BERGIZI????" tulis akun @dr.dede.spa.
Tak hanya itu, klinik kesehatan anak juga turut bersuara. Akun @kmnc.clinic menambahkan:
"Cape cape emaknya masakin realfood, pemerintah malah kasih upf????"
Pemerintah mengklaim bahwa evaluasi akan dilakukan setelah satu minggu pelaksanaan program ini untuk melihat apakah perlu ada penyesuaian, terutama bagi daerah mayoritas non-Muslim.
Namun, banyak pihak menuntut revisi cepat agar anak-anak tidak terus mendapatkan makanan yang dianggap kurang memenuhi standar gizi. (lz)
Editor : Laila Zakiya