SOLOBALAPAN.COM - PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang baru saja resmi tutup pada 1 Maret 2025, kini santer dikabarkan akan dibuka kembali dalam dua minggu ke depan.
Isu ini muncul setelah pernyataan Koordinator Serikat Pekerja Sritex, Slamet Kaswanto, yang mengklaim bahwa ada harapan bagi ribuan buruh yang terkena PHK untuk kembali bekerja.
"Kami dengar secara langsung bahwa pembukaan kembali Sritex itu akan diputuskan dalam dua minggu ke depan. Seluruh karyawan atau buruh eks Sritex yang sekarang dalam PHK bisa bekerja lagi untuk di pekerjaan yang baru," ungkap Slamet di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (3/3), seperti dikutip SoloBalapan.com dari CNN Indonesia.
Slamet juga menyampaikan harapan ini dalam rapat koordinasi di Istana, dengan tujuan agar pabrik Sritex bisa beroperasi lagi dan para buruh bisa mendapatkan kembali pekerjaan mereka.
Ia menegaskan bahwa pemerintah telah merespons cepat dalam mencari solusi bagi para buruh terdampak.
Namun, di sisi lain, keputusan kurator yang telah menyatakan Sritex pailit menimbulkan kebingungan.
Rapat kreditur telah memutuskan bahwa tidak ada kelanjutan usaha atau going concern, sehingga perusahaan harus dibereskan dan utang-utang dilunasi.
Kurator Denny Ardiansyah menyebut bahwa beberapa faktor menjadi pertimbangan utama mengapa Sritex tidak bisa lagi beroperasi, termasuk modal kerja yang habis, biaya produksi yang tinggi, serta kekhawatiran akan kerugian lebih lanjut jika perusahaan dipaksakan untuk tetap berjalan.
Sementara itu, Wamenaker Immanuel Ebenezer Gerungan, yang akrab disapa Noel, menjadi sorotan setelah sebelumnya berjanji akan membela hak-hak buruh Sritex.
"Saya lebih baik kehilangan jabatan saya daripada melihat saudara-saudara saya harus di-PHK," tegas Noel saat menghadiri Istighosah Akbar di kompleks PT Sritex, Sukoharjo, pada Jumat 15 November 2024 lalu.
Namun kenyataannya, ribuan buruh tetap kehilangan pekerjaan setelah Sritex dinyatakan pailit.
Pernyataan Noel ini pun kembali diungkit oleh para mantan karyawan Sritex yang kini masih memperjuangkan hak-hak mereka.
Wamenaker Noel berjanji akan mendatangi Sukoharjo untuk bertemu langsung dengan para buruh yang terkena PHK.
"Senin (3/3/2025), saya akan datang ke sana," ujar Noel.
Noel juga mengkritik keputusan tim kurator yang menutup operasional Sritex tanpa mempertimbangkan dampak sosial bagi ribuan buruh dan masyarakat sekitar.
"Keputusan PHK Sritex tidak memperhatikan aspek sosial. Seharusnya, ada pertimbangan konsekuensi pemailitan bagi ekosistem buruh dan masyarakat setempat," tegasnya.
Tak hanya mempertanyakan janji pembukaan kembali pabrik, para eks buruh Sritex juga masih menunggu kepastian pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) yang hingga kini belum jelas kapan akan dicairkan.
"Lebaran semakin dekat, kebutuhan rumah tangga meningkat, tapi kepastian pencairan THR belum jelas. Katanya cair, tapi belum tahu kapan," ujar Jumari, eks karyawan yang telah bekerja di Sritex selama 13 tahun.
Sama seperti buruh lainnya, Jumari masih berjuang untuk mendapatkan haknya.
"Saya sudah melengkapi berkas, tapi soal pencairannya kapan, kami belum diberi tahu," tuturnya.
Kini, para mantan buruh Sritex masih menunggu kepastian dari pemerintah dan kurator, apakah benar pabrik akan dibuka kembali dalam dua minggu, atau apakah janji ini hanya sekadar harapan yang belum tentu terealisasi. (lz)