Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Selamat Tinggal PT Sritex! 59 Tahun Berjaya di Dunia Tekstil, Kini Resmi Tutup hingga Ribuan Pekerja Berakhir Nganggur

Nindia Aprilia • Jumat, 28 Februari 2025 | 18:55 WIB

Karyawan di PT Sritek masuk di hari terakhir kerja pada (28/2/25), tepat satu hari sebelum PT Sritex resmi ditutup.
Karyawan di PT Sritek masuk di hari terakhir kerja pada (28/2/25), tepat satu hari sebelum PT Sritex resmi ditutup.

SOLOBALAPAN.COM - Setelah lebih dari setengah abad berdiri sebagai salah satu raksasa industri tekstil di Indonesia, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) kini resmi tutup usai dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang.

Keputusan ini menjadi pukulan besar bagi ribuan karyawan yang kini kehilangan pekerjaan, serta berdampak luas pada berbagai sektor ekonomi yang selama ini bergantung pada keberadaan perusahaan tersebut.

Ribuan Pekerja Terkena PHK dan Tak Punya Pegangan

Baca Juga: PT Sritex Resmi Tutup? Begini Sejarah Awal Berdirinya hingga Kini Berhentikan Puluhan Ribu Karyawan!

Dengan tutupnya PT Sritex, sebanyak 10.669 karyawan terpaksa kehilangan pekerjaan dan harus mencari sumber penghidupan baru.

Salah satu mantan pekerja, Sutrisna (47), warga Klaten, mengungkapkan betapa beratnya menerima kenyataan ini setelah bertahun-tahun mengabdi di perusahaan.

Sebagai bentuk kenangan, Sutrisna mengenakan seragam kerja yang telah ditandatangani oleh teman-temannya serta pimpinan di tempatnya bekerja.

Baca Juga: Terungkap! Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar Gelar Gender Reveal Anak Pertama, Ternyata Balon Biru!

"Seragam ini jadi kenang-kenangan. Banyak tanda tangan dari teman-teman dan pimpinan. Saya ingin mengingat momen-momen saat bekerja di sini," ungkapnya, Kamis (28/2).

Ia baru saja menerima surat PHK dan kini tengah mencari pekerjaan baru agar tetap bisa menghidupi keluarganya.

"Banyak kenangan di sini. Terima kasih Sritex sudah memberi saya kesempatan bekerja, membiayai keluarga, dan menyekolahkan anak-anak," tambahnya.

Dampak Penutupan Sritex Tak Hanya ke Pekerja, Sektor Lain pun Ikut Terdampak

Tidak hanya pekerja yang kehilangan penghasilan, penutupan PT Sritex juga berdampak besar pada sektor ekonomi lainnya, termasuk jasa kurir dan pelaku usaha kecil.

Baca Juga: Siapa Davina Karamoy? Pemain Film 'Ipar Adalah Maut' yang Viral dan Banyak Tersorot dengan Penampilan Menawannya!

Seorang kurir pengiriman paket, Jalu Hariyanto (43) dari Kecamatan Sukoharjo Kota, mengaku kehilangan sekitar 40 persen dari target pengiriman hariannya setelah pabrik ditutup. Sebelum Sritex bangkrut, ia biasa mengirim 150-200 paket per hari, tetapi kini jumlahnya berkurang drastis.

"Itu baru saya sendiri, kehilangan sekitar 40 persen. Padahal, di aplikasi tempat saya bekerja, ada sekitar 10 kurir yang beroperasi di sekitar PT Sritex," ujarnya, Jumat (28/2).

Menurut Jalu, para buruh Sritex sering membeli berbagai kebutuhan secara online, seperti makeup, skincare, pakaian, peralatan elektronik, hingga perlengkapan rumah tangga.

Baca Juga: Demi Keluarga, Sutrisna Tetap Tegar Usai PHK: Terima Kasih Sritex, Saya Harus Bangkit

Dengan kesibukan kerja mereka, belanja online menjadi pilihan utama dibandingkan harus datang langsung ke toko.

Dengan menurunnya jumlah pelanggan dari kalangan buruh Sritex, Jalu kini kehilangan penghasilan lebih dari Rp 50 ribu per hari.

"Biasanya saya bisa antar 50 paket sehari, sekarang berkurang banyak. Untuk satu paket, saya hanya dapat Rp 1.800. Jadi penghasilan saya turun drastis," jelasnya.

Dari Kejayaan hingga Kehancuran: Sejarah Panjang PT Sritex

Sritex memiliki sejarah panjang sejak 1966, ketika didirikan oleh H.M. Lukminto sebagai perusahaan perdagangan kain di Pasar Klewer, Solo.

Baca Juga: Inspiratif, SMP Negeri 5 Wonogiri Luncurkan Greenhouse Eduwisata sebagai Langkah Konkret dalam Program Adiwiyata

Perusahaan ini terus berkembang, mendirikan pabrik cetak kain pertama pada 1968 dan akhirnya berkembang menjadi perusahaan tekstil besar dengan empat lini produksi pada 1992.

Pada puncak kejayaannya, Sritex bahkan dipercaya sebagai produsen seragam militer untuk NATO dan Tentara Jerman pada 1994.

Perusahaan ini juga mampu bertahan dari krisis moneter 1998 dan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2013.

Namun, seiring berjalannya waktu, tantangan global dan ketidakstabilan ekonomi membuat Sritex semakin terpuruk.

Hingga akhirnya, perusahaan ini gagal membayar utang dan dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang, yang menyebabkan ribuan karyawan kehilangan pekerjaan dan sektor ekonomi sekitar ikut terpukul.

Kini, para mantan karyawan Sritex menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Banyak di antara mereka yang masih mencari pekerjaan baru, berharap adanya kesempatan dari perusahaan lain yang bersedia menerima mereka.

Penutupan PT Sritex menjadi salah satu bukti nyata bagaimana tekanan ekonomi global dan ketatnya persaingan industri dapat mengancam eksistensi perusahaan besar.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat mencari solusi untuk membantu para pekerja yang terkena PHK serta menjaga keberlangsungan industri tekstil di Indonesia.

Kini, nama besar Sritex tinggal kenangan. Setelah 59 tahun berjaya, perusahaan yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia ini akhirnya tutup untuk selamanya, meninggalkan ribuan pekerja dalam ketidakpastian.

Editor : Nindia Aprilia
#karyawan #tekstil #1 maret 2025 #PT Sritex #selamat tinggal #tutup #phk