Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

PT Sritex Resmi Tutup? Begini Sejarah Awal Berdirinya hingga Kini Berhentikan Puluhan Ribu Karyawan!

Nindia Aprilia • Jumat, 28 Februari 2025 | 18:18 WIB

Sejarah PT Sritex yang mengalami pailit.
Sejarah PT Sritex yang mengalami pailit.

SOLOBALAPAN.COM - Kabar mengejutkan datang dari dunia industri tekstil Indonesia. PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), yang selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara, resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang.

Keputusan ini menjadi sorotan publik, terutama setelah perusahaan yang telah berjaya selama puluhan tahun ini mengalami kesulitan finansial yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10.669 karyawan.

Ditetapkan Pailit, Sritex Akan Berhenti Beroperasi

Putusan pailit diumumkan dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Moch Ansar pada Senin (21/10/2024), dengan Juru Bicara Pengadilan Niaga Semarang, Haruno Patriadi, menyatakan bahwa permohonan pailit telah dikabulkan.

Baca Juga: Terungkap! Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar Gelar Gender Reveal Anak Pertama, Ternyata Balon Biru!

"Mengabulkan permohonan pemohon. Dan termohon dinyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya," ungkap Haruno.

Penyebab utama kebangkrutan Sritex diduga akibat penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) setelah perusahaan digugat oleh CV Prima Karya dan PT Indo Bharat Rayon. Sritex dinilai gagal memenuhi kewajiban pembayaran utang yang telah disepakati sebelumnya.

Dampak dari pailitnya perusahaan ini sangat besar, terutama bagi ribuan karyawan yang terpaksa kehilangan pekerjaan.

Baca Juga: Demi Keluarga, Sutrisna Tetap Tegar Usai PHK: Terima Kasih Sritex, Saya Harus Bangkit

Disebutkan bahwa Sritex akan menghentikan operasionalnya pada 1 Maret 2025, sementara karyawan yang terkena PHK dijadwalkan bekerja untuk terakhir kalinya pada 28 Februari 2025.

Sejarah Panjang Sritex: Dari Pasar Klewer hingga Menjadi Raksasa Tekstil

Melansir dari laman sritex.co.id, Sritex tidak lahir sebagai perusahaan besar begitu saja. Perjalanan panjangnya dimulai sejak 1966, ketika H.M. Lukminto mendirikan perusahaan ini sebagai bisnis perdagangan kain tradisional di Pasar Klewer, Solo.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan ini berkembang pesat dan mulai mendirikan pabrik cetak pertama pada 1968, yang memproduksi kain putih dan kain berwarna khas Solo.

Baca Juga: Siapa Davina Karamoy? Pemain Film 'Ipar Adalah Maut' yang Viral dan Banyak Tersorot dengan Penampilan Menawannya!

Pada 1978, Sritex resmi terdaftar sebagai perseroan terbatas (PT) di bawah Kementerian Perdagangan, yang kemudian memperkuat posisinya dalam industri tekstil nasional.

Perkembangan signifikan terjadi pada 1982, saat Sritex mendirikan pabrik tenun pertamanya. Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada 1992, Sritex berhasil mengembangkan empat lini produksi utama, yaitu:

- Pemintalan

- Penenunan

- Sentuhan akhir

- Produksi pakaian jadi

Kesuksesan ini menarik perhatian dunia internasional. Pada 1994, Sritex dipercaya sebagai produsen seragam militer untuk NATO dan Tentara Jerman, yang semakin mengukuhkan namanya di pasar global.

Baca Juga: Marhaban Ya Ramadhan! Ini 50 Rekomendasi Ucapan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 2025!

Saat Indonesia mengalami krisis moneter pada 1998, banyak perusahaan yang mengalami kejatuhan.

Namun, Sritex justru berhasil bertahan dan melipatgandakan pertumbuhannya hingga delapan kali lipat dibandingkan dengan 1992.

Pada 2013, Sritex melangkah lebih jauh dengan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menggunakan kode saham SRIL.

Langkah ini semakin mengukuhkan posisi perusahaan sebagai pemain besar di industri tekstil.

Kejayaan Sritex berlanjut hingga 2014, di mana Iwan S. Lukminto meraih penghargaan Businessman of The Year dari majalah Forbes Indonesia.

Baca Juga: Megawati Hangestri Cemerlang dengan 20 Poin Meski Red Sparks Kalah dari GS Caltex, Naik ke Posisi Tiga Top Skor

Pada tahun yang sama, ia juga dinobatkan sebagai EY Entrepreneur of The Year oleh Ernst & Young.

Berbagai pencapaian terus diraih hingga 2016, termasuk penghargaan sebagai Top Performing Listed Companies dari Majalah Investor dan penerbitan obligasi global senilai 350 juta dolar AS yang akan jatuh tempo pada 2021.

Namun, memasuki tahun 2020-an, kondisi bisnis Sritex mulai mengalami penurunan, terutama karena meningkatnya persaingan di industri tekstil serta dampak dari ketidakstabilan ekonomi global.

 

Dampak Besar bagi Ribuan Karyawan

Salah satu dampak terbesar dari pailitnya Sritex adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap 10.669 karyawan.

Ribuan tenaga kerja yang telah bertahun-tahun bekerja di perusahaan ini kini harus menghadapi ketidakpastian ekonomi setelah kehilangan pekerjaan mereka.

Baca Juga: Megawati Hangestri Cemerlang dengan 20 Poin Meski Red Sparks Kalah dari GS Caltex, Naik ke Posisi Tiga Top Skor

Selain itu, bangkrutnya Sritex juga memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian daerah, khususnya di Solo dan sekitarnya, mengingat perusahaan ini merupakan salah satu penyedia lapangan kerja terbesar di wilayah tersebut.

Para pekerja berharap adanya kejelasan terkait hak-hak mereka, termasuk pesangon dan kompensasi yang layak dari pihak perusahaan.

Penutupan Perusahaan dan Akhir Perjalanan Sritex

Dengan resmi ditutupnya Sritex pada 1 Maret 2025, maka berakhir pula perjalanan panjang perusahaan ini sebagai salah satu ikon industri tekstil Indonesia.

Perusahaan yang pernah berjaya selama puluhan tahun ini kini hanya tinggal sejarah.

Banyak yang menyayangkan berakhirnya Sritex, mengingat perusahaan ini pernah menjadi kebanggaan nasional di sektor tekstil dan garmen.

Namun, di tengah realitas bisnis yang terus berkembang, perusahaan yang gagal beradaptasi dengan perubahan pasar memang harus menghadapi tantangan yang tidak mudah.

 

Editor : Nindia Aprilia
#karyawan #pailit #sejarah #1 maret 2025 #PT Sritex #tutup #phk