SOLOBALAPAN.COM - Baru-baru ini, tagar Tridatu menjadi viral di media sosial X, atau yang dulunya Twitter.
Unggahan tersebut viral lantaran seorang pengguna X mengunggah keluhannya terkait orang-orang yang mulai mengikuti tren menggunakan gelang Tridatu.
'Lahir besar di Bali, sampai detik ini aku gak berani pakek gelang Tridatu, pertama:
Aku bukan bagian dari Umat Hindu, kedua:
Gelang Tridatu itu sakral, simbol ketaatan mereka terhadap Tuhan mereka, sampai sini paham kan yang Non Hindu jangan ngadi-ngadi sembarang pakek gelang,' tulis akun X @yrbubblepeach, seperti dikutip SoloBalapan.com pada Jumat (31/1/2025).
Lantas, apa sebenarnya gelang Tridatu itu?
Gelang Tridatu adalah aksesori khas Bali yang terdiri dari tiga benang berwarna merah, putih, dan hitam.
Secara etimologis, "Tridatu" berasal dari kata "Tri" yang berarti tiga dan "Datu" yang berarti elemen atau warna.
Gelang ini memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu Bali.
Ketiga warna pada gelang Tridatu melambangkan manifestasi kesucian Tuhan dalam tiga aspek utama:
- Merah: Melambangkan Dewa Brahma sebagai pencipta.
- Putih: Melambangkan Dewa Siwa sebagai pelebur.
- Hitam: Melambangkan Dewa Wisnu sebagai pemelihara.
Selain itu, gelang Tridatu juga merepresentasikan konsep Tri Kona, yaitu tiga fase kehidupan manusia: lahir, hidup, dan mati.
Dikutip dari denpasarkota.go.id, dengan memakai gelang ini, diharapkan pemakainya selalu mengingat perjalanan hidup dan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan.
Umat Hindu di Bali meyakini bahwa gelang Tridatu memiliki kekuatan spiritual yang dapat memberikan perlindungan dari hal-hal negatif dan marabahaya.
Gelang ini dianggap sebagai anugerah dari Tuhan yang mengingatkan pemakainya untuk selalu berada di jalan yang benar.
Meskipun kini banyak orang non-Hindu yang tertarik memakai gelang Tridatu sebagai aksesori atau oleh-oleh, penting untuk memahami dan menghormati aturan pemakaiannya:
- Tangan Kanan: Gelang ini sebaiknya dipakai di pergelangan tangan kanan.
- Tidak di Kaki: Hindari memakai gelang ini di pergelangan kaki, karena dianggap tidak sopan dan dapat menyinggung perasaan umat Hindu.
Dengan memahami makna dan aturan pemakaian gelang Tridatu, kita dapat lebih menghargai nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Lebih lanjut, unggahan tersebut viral lantaran banyak pihak yang mengaku mengenakan gelang dengan konsep serupa bukan karena gelang tersebut merupakan gelang Tridatu yang terafiliasi dengan umat Hindu Bali.
'Saya Batak Toba, dalam budaya kami terdapat gelang bernama "Bonang Manalu Sitolu Warna" Atau pada masyarakat Batak lainnya disebut "Benang Menalu". Saya memakai ini karena identitas saya sebagai suku Batak, lalu apakah saat saya ke Bali saya harus melepaskan Gelang Adat Saya?...' tulis akun X @Jhn_____s.
Adapula warga Jawa yang mengenal gelang serupa dengan nama gelang telon, yang kerap digunakan oleh para bayi dan dipercaya mampu menolak bala.
Sementara itu, sejumlah warganet lainnya menganggap bahwa gelang Tridatu bisa dengan bebas digunakan oleh siapa saja.
'I’m a pure balinese and hindu, born and raised in Bali. Imo, using Tridatu is more into a “cultural” rather than a “religious” thing, despite the fact that it symbolises the Trimurti Goddess. As a Hindu, I see no disrespect on this matter, so, pls dont mind others!' sambung @carb0ncapture.
'kalo gelangnya cuma beli pinggir jalan, di krisna atau tempat jualan oleh-oleh apapun itu ga masalah sih, itu emang buat fashion.
kayaknya yang ga boleh itu pake tridatu yg asli, yg didepat pas abis sembahyang di Pura Besakih misalnya.
lahir besar di Bali harusnya paham ini.' tambah @toiletkost. (lz)
Editor : Laila Zakiya