SOLOBALAPAN.COM - Nama Uswatun Khasanah tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di jagat maya dan masyarakat Indonesia setelah kasus mutilasi tragis yang menimpa dirinya terungkap.
Wanita asal Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, ini ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan, dengan jasadnya termutilasi dan disimpan dalam koper merah di Kabupaten Ngawi.
Berikut adalah kisah hidup dan fakta mengerikan di balik tragedi yang menimpa Uswatun Khasanah:
Identitas Uswatun Khasanah berhasil diungkap setelah keluarga mendatangi RSUD dr. Soeroto Ngawi.
Ayah tirinya, Hendi Suprapto, dan pengasuh anak korban, Ana Yuliani, membenarkan bahwa jasad tersebut adalah Uswatun Khasanah.
Kabar tragis ini langsung menyebar di media sosial, membuat warganet penasaran dengan sosok korban.
Salah satu akun TikTok, @jamilindo77gmail, mengunggah foto dan ucapan duka cita untuk Uswatun.
Postingan tersebut ramai komentar warganet yang mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang korban, termasuk akun media sosialnya.
Namun, hingga kini hanya akun TikTok milik korban yang berhasil diidentifikasi, yaitu @uswatunkha62.
Menurut Nur Khalim, ayah kandung Uswatun, korban adalah sosok anak yang baik dan perhatian terhadap keluarga.
Meski tidak tinggal bersama, Uswatun kerap menjenguk keluarganya dan memberikan uang untuk kebutuhan mereka.
"Setahu saya, anak saya tidak punya musuh. Dia anak baik. Kalau pulang kerja, dia selalu membawa makanan untuk anaknya, saya, dan neneknya," ungkap Nur Khalim.
Uswatun Khasanah juga dikenal sebagai ibu yang peduli.
Ia selalu memperhatikan kebutuhan anaknya, yang diasuh oleh Ana Yuliani.
Sosoknya yang penuh perhatian ini semakin memperkuat duka mendalam keluarga atas kepergiannya yang tragis.
Kasus yang menimpa Uswatun Khasanah membuat Nur Khalim terpukul.
Ia berharap agar pelaku kejahatan terhadap anaknya segera ditangkap dan diadili seadil-adilnya.
"Saya minta bantuan agar pelaku kejahatan terhadap anak saya itu bisa ditangkap. Biar diadili dan dihukum sesuai perbuatannya," tegas Nur Khalim.
Keluarga, termasuk adik Uswatun yang berada di Jakarta, turut merasa kehilangan.
Meski belum bisa pulang ke Blitar, mereka terus mengikuti perkembangan kasus ini dan berharap keadilan segera ditegakkan. (lz)
Editor : Laila Zakiya