SOLOBALAPAN.COM - Insiden menyayat hati terjadi di Sekolah Dasar Yayasan Abdi Sukma, Kota Medan, di mana seorang siswa kelas IV berinisial MI dihukum duduk di lantai selama tiga hari.
Penyebabnya? Diduga karena tunggakan pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama tiga bulan.
Kejadian ini memicu kemarahan publik setelah video yang menunjukkan MI duduk di lantai beredar luas di media sosial.
Menurut informasi yang dihimpun, insiden bermula pada tanggal 6 Januari 2025, ketika wali kelas MI, berinisial H, menerapkan aturan sepihak bahwa siswa yang belum melunasi SPP dilarang mengikuti pelajaran secara normal.
Akibatnya, MI dipaksa duduk di lantai selama proses belajar-mengajar berlangsung.
Ibunda MI, AM, yang mengetahui kejadian tersebut, merasa sedih dan kecewa.
Dalam video yang viral, ia mengungkapkan bahwa anaknya merasa malu dan enggan pergi ke sekolah.
"Dia nangis mau pergi sekolah, dia bilang, 'Mamak, MI malu duduk di bawah,'" ujar AM sambil menangis.
AM juga menjelaskan bahwa kondisi keuangannya sedang sulit karena ia harus menjalani operasi, sehingga belum mampu membayar tunggakan SPP.
Kepala sekolah Yayasan Abdi Sukma, Juli Sari, segera memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa tindakan wali kelas tersebut tidak mencerminkan kebijakan sekolah.
Baca Juga: Kenapa Mobil RI 36 Viral di Media Sosial? Tersorot Publik hingga Banyak Direkam saat di Jalanan!
"Pihak yayasan tidak pernah mengeluarkan kebijakan siswa yang belum bayar SPP untuk duduk di lantai," ujar Juli.
Juli menambahkan bahwa masalah ini sudah diselesaikan secara internal dan pihak sekolah telah meminta maaf kepada keluarga MI.
"Kami akan melakukan evaluasi internal untuk memastikan bahwa semua guru memahami kebijakan dan etika dalam mendidik siswa," tegasnya.
Tindakan ini menuai kecaman dari berbagai pihak. Publik menilai hukuman tersebut tidak manusiawi dan melukai harga diri seorang siswa.
Salah satu warganet melalui akun X @Heraloebss menuliskan, "Pemerintah wajib menindak tegas sekolah-sekolah swasta yang menghina UUD 1945!"
Pihak yayasan menyatakan akan mengevaluasi kebijakan internal dan memberikan pembinaan kepada seluruh staf pengajar agar kejadian serupa tidak terulang.
"Kami akan memastikan kejadian ini menjadi pelajaran untuk semua pihak," ujar Juli. (lz)
Editor : Laila Zakiya