Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Siapa Abah Guru Sekumpul? Ini Profil KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, Sosok Ulama Besar yang Haulnya Dihadiri Jutaan Orang

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 7 Januari 2025 | 23:26 WIB
Haul Abah Guru Sekumpul
Haul Abah Guru Sekumpul

SOLOBALAPAN.COM - KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Guru Sekumpul, adalah seorang ulama besar asal Kalimantan Selatan yang sangat dihormati.

Beliau lahir pada 11 Februari 1942 di Desa Tunggul Irang, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Abah Guru Sekumpul berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat, dengan ayah bernama Abdul Ghani dan ibu bernama Hajjah Masliyah binti H. Mulia, adik dari ulama terkemuka Syekh Muhammad Semman Mulia.

Abah Guru Sekumpul dikenal sebagai keturunan ke-8 dari Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari, seorang ulama besar Banjar yang sangat berpengaruh.

Pendidikan Abah Guru Sekumpul dimulai sejak usia dini di Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura, dan kemudian melanjutkan studi di Madrasah Tsanawiyah Darussalam.

Beliau mendalami berbagai ilmu agama, termasuk fikih, tasawuf, tafsir, dan hadis, yang kelak membentuknya menjadi seorang guru yang sangat dihormati.

Masa Kecil dan Pendidikan

Sejak kecil, Abah Guru Sekumpul sudah mendapat pendidikan agama yang mendalam dari ayah dan neneknya, yang menekankan kedisiplinan dalam belajar tauhid, akhlak, serta membaca Al-Quran.

Beliau juga mendapat pengaruh besar dari pamannya, Syekh Seman Mulia.

Beliaulah yang mengajarkan Abah Guru Sekumpul untuk mempelajari ilmu agama dari ulama besar di Kalimantan Selatan dan Jawa, salah satunya adalah al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya'rani yang ahli dalam bidang hadis dan tafsir.

Setelah menamatkan pendidikan formal, Abah Guru Sekumpul melanjutkan perjalanan ilmiah dan mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura atas rekomendasi sejumlah ulama besar.

Namun, pada tahun-tahun berikutnya, beliau memilih untuk fokus pada dakwah dan membuka pengajian sendiri di rumahnya di Keraton Martapura.

Pengajian ini pada awalnya hanya untuk mendukung pelajaran para santri, namun seiring waktu, jumlah jemaahnya terus berkembang hingga mencakup masyarakat umum.

Pengajian dan Dakwah

Pengajian yang dimulai di Keraton Martapura semakin berkembang, tidak hanya membahas kitab-kitab ilmu alat seperti Nahwu dan Saraf, tetapi juga berfokus pada pelajaran-pelajaran agama yang lebih mendalam.

Di sinilah Abah Guru Sekumpul mulai mengenalkan Maulid al-Habsyi, sebuah karya yang dipopulerkan oleh al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, yang berisi pujian-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.

Abah Guru Sekumpul juga mengenalkan syair-syair atau kasidah yang menambah keindahan dalam pengajiannya.

Pada tahun 1980-an, mengingat semakin banyaknya jemaah yang hadir, Abah Guru Sekumpul memutuskan untuk memindahkan lokasi pengajiannya ke Sungai Kacang, Martapura.

Tempat baru ini kemudian dikenal dengan nama kompleks Ar-Raudhah, yang diambil dari nama Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah, sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Penyakit dan Wafat

Pada tahun 2005, Abah Guru Sekumpul mengalami masalah kesehatan dan dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, akibat gangguan pada ginjalnya.

Setelah 10 hari menjalani perawatan, beliau diperbolehkan pulang pada 9 Agustus 2005, namun keesokan harinya, beliau menghembuskan nafas terakhir pada usia 63 tahun.

Abah Guru Sekumpul dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga yang terletak dekat dengan Musala Ar-Raudhah, tempat beliau mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk berdakwah.

Haul Guru Sekumpul

Haul Guru Sekumpul adalah acara peringatan kematian beliau yang digelar setiap tanggal 5 Rajab, yang tahun ini bertepatan dengan Minggu, 5 Januari 2025.

Haul ini menjadi perayaan besar yang menarik jemaah dari berbagai penjuru, termasuk ratusan jemaah yang datang dari Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, menggunakan kapal kelotok.

Mereka menempuh perjalanan panjang selama sekitar 18 jam untuk menghadiri acara Haul Guru Sekumpul di Martapura, Kalimantan Selatan.

Haul Guru Sekumpul bukan sekadar peringatan kematian, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi yang dipenuhi dengan rasa cinta kepada ulama besar ini, yang mengajarkan cinta kepada Nabi Muhammad melalui majelis-majelis Maulid Nabi.

Setiap tahun, Haul Guru Sekumpul selalu dipenuhi dengan "Lautan Cinta," di mana jemaah datang dengan penuh cinta, dan disambut dengan keramahan serta sukacita oleh masyarakat setempat.

Jumlah jemaah yang hadir dalam peringatan Haul ke-20 KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani dipastikan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada Haul ke-19 yang digelar pada tahun 2024, jumlah jemaah yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 3,3 juta orang.

Namun, pada Haul ke-20 tahun 2025 ini, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 4,1 juta orang.

Peningkatan jumlah jemaah tersebut mencerminkan besarnya rasa cinta dan penghormatan yang diberikan oleh umat terhadap Abah Guru Sekumpul, serta semakin populernya acara tersebut sebagai salah satu peringatan haul terbesar di Indonesia. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#Abah Guru Sekumpul #haul #KH Muhammad Zaini Abdul Ghani #profil #ulama