SOLOBALAPAN.COM - Nama Rudi S Gani, seorang pengacara asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mendadak menjadi perhatian publik setelah meninggal dunia secara tragis pada malam pergantian tahun, 31 Desember 2024.
Kepergian Rudi menyisakan duka mendalam dan berbagai pertanyaan tentang kasus yang ia tangani serta siapa pelaku yang bertanggung jawab atas kematiannya.
Rudi, yang tengah berkumpul bersama keluarga di rumah mertuanya di Bone untuk merayakan malam pergantian tahun, tiba-tiba tergeletak usai terdengar suara ledakan.
Awalnya, keluarga menduga ia mengalami serangan penyakit.
Namun, saat dibawa ke rumah sakit, diketahui bahwa Rudi mengalami luka yang diduga akibat tembakan.
Hingga 2 Januari 2025, pelaku penembakan Rudi belum berhasil ditangkap.
Menurut Solidaritas Pembela Advokat Seluruh Indonesia (SPASI), ada indikasi pelaku menggunakan mobil, yang seharusnya bisa dilacak melalui teknologi yang tersedia di area tersebut.
Rudi dikenal sebagai advokat yang menangani berbagai kasus besar, termasuk sengketa lahan ahli waris antara pemerintah desa dan kecamatan di Desa Pattuku Lompoe, Kecamatan Lappariaja, Bone.
Dalam kasus ini, ia menjadi kuasa hukum untuk pihak pemerintah desa dan kecamatan.
Kasus tersebut dikabarkan telah diselesaikan sebelum tragedi ini terjadi.
Selain itu, Rudi juga diketahui sebagai kuasa hukum untuk beberapa perusahaan media online.
Baca Juga: Meghan Markle Pasang 'Gelar Baru', Benarkah Sang Aktris dan Pangeran Harry Bercerai?
Keberaniannya dalam membela klien dalam berbagai perkara membuat namanya dihormati di kalangan advokat, meski mungkin juga menjadi sasaran pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Kematiannya memicu kecaman keras dari komunitas hukum.
Martin Lukas Simanjuntak, perwakilan SPASI, menyatakan bahwa pembunuhan terhadap Rudi adalah tindakan yang mengancam profesi advokat secara keseluruhan.
Ia mendesak pihak kepolisian untuk segera mengusut tuntas kasus ini.
“SPASI mengutuk keras pembunuhan terhadap Rudi S Gani. Kami meminta kepolisian Republik Indonesia segera menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik kejahatan ini,” ujar Martin.
Hingga kini, belum ada kejelasan siapa pelaku penembakan tersebut dan apa motifnya.
Dengan fakta bahwa pelaku menggunakan kendaraan, seharusnya teknologi pelacakan bisa menjadi kunci untuk mengidentifikasi dan menangkap pelaku.
Namun, proses investigasi tampaknya masih menemui kendala. (lz)
Editor : Laila Zakiya