SOLOBALAPAN.COM - Sebuah petisi yang meminta pemecatan Gus Miftah dari jabatan Utusan Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan beredar di situs change.org.
Dipantau oleh Solobalapan.com, hingga Rabu, 4 Desember 2024, pukul 18.00 WIB, sudah ada 2.740 orang yang menandatangani petisi tersebut.
Petisi ini muncul setelah sebuah video yang memperlihatkan pernyataan Gus Miftah yang dianggap merendahkan seorang penjual es teh di Magelang, Jawa Tengah, menjadi viral di media sosial.
Gus Miftah, yang memiliki nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman, memberikan tanggapan terhadap desakan untuk mencopotnya dari jabatan tersebut.
Miftah menegaskan bahwa isu pencopotannya bukanlah urusannya.
"Tidak usah tanya (soal desakan pencopotan) itu, itu bukan kewenangan saya," ujar Miftah.
Pernyataan Miftah yang memicu kontroversi itu terjadi saat ia memberikan ceramah di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Magelang pada 20 November 2024.
Dalam video yang viral, ia menanggapi penjual es teh yang berada di sekitar tempat ceramah dengan kalimat yang dianggap melecehkan.
“Es tehmu seh akeh ra? (Es teh mu masih banyak gak?) masih? Yo kono didol goblok (Ya sana dijual bodoh). Dolen disek, nko lak durung payu, wes, takdir (Jual dulu, kalau belum laku, sudah, takdir)." ucapnya.
Setelah video tersebut tersebar luas, Gus Miftah segera mengeluarkan permintaan maaf.
Dalam video berdurasi satu menit yang dirilis pada Rabu, 4 Desember 2024, ia menyampaikan permintaan maaf kepada pedagang yang terdampak dan masyarakat yang merasa terganggu dengan ucapannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya Miftah Maulana Habiburrahman, menanggapi yang viral hari ini. Yang pertama, dengan kerendahan hati saya minta maaf atas kehilafan saya," kata Miftah dalam video tersebut, seperti dikutip dari Antara.
Miftah juga menyampaikan permohonan maafnya kepada publik yang merasa terganggu dengan candaan yang dinilai berlebihan.
“Saya juga minta maaf kepada masyarakat atas kegaduhan ini, yang merasa terganggu atas candaan saya," ujarnya.
Selain itu, Gus Miftah mengungkapkan bahwa ia telah menerima teguran dari Sekretaris Kabinet, Mayor Teddy Indra Wijaya, yang mengingatkan agar ia lebih berhati-hati dalam berbicara di depan publik.
Miftah mengungkapkan bahwa teguran tersebut menjadi bahan introspeksi bagi dirinya untuk lebih bijak dalam menyampaikan pernyataan.
Pernyataan yang mengundang pro dan kontra terkait cara berkomunikasi dengan masyarakat ini menyoroti pentingnya pemimpin dan tokoh publik dalam menjaga ucapan mereka.
Khususnya di era digital di mana setiap kata dapat dengan cepat tersebar luas dan memicu reaksi.
Hal ini juga mengingatkan pentingnya etika berbicara yang dapat mempengaruhi reputasi dan hubungan dengan masyarakat. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo