SOLOBALAPAN.COM - Ketua RT setempat mengatakan bahwasanya Aipda Nikson Pangaribuan kemungkinan masih mengalami stres hingga tega menganiaya ibu kandungnya dengan gas melon (3 kilogram) hingga tewas.
Hamid selaku Ketua RT setempat menyatakan bahwasanya sebelum kejadian polisi bunuh ibu di Cileungsi, Bogor, tersebut, Aipda Nikson sempat berjumpa dengannya.
Diketahui bahwasanya aksi keji Aipda Nikson ke ibu kandungnya itu terjadi pada Minggu (1/12/2024) malam.
Menurut Hamid, ia sempat duduk bersama Aipda Nikson dan ngopi berdua.
"Lima hari lalu bapak main ke rumah pelaku, dia nawarin kopi. 'Pak RT ngopi gak?' saya bilang 'gak usah repot-repot'. Ternyata dia bikinin kopi, ngobrol sekitar 30 menit," ungkap Hamid, seperti dikutip dari Tribunnews.
Ketika duduk berdua itulah, Aipda Nikson kemudian menceritakan mengenai permasalahannya dengan sang mantan istri.
Bahkan, Aipda Nikson saat itu merasa jika dirinya sudah dikerjai oleh mantan istrinya itu.
"Dia kan punya istri, punya anak, istrinya orang Ciamis, terus cerai," lanjutnya.
Dengan permasalahan tersebut, sang Ketua RT lantas menduga bahwasanya Aipda Nikson dalam kondisi sedang stres karena masalah rumah tangganya, sehingga berujung nekat menganiaya ibu kandungnya.
"Kemungkinan (stress karena keluarga)," tukasnya.
Lebih lanjut, dikutip dari Radar Bogor, kronologi polisi bunuh ibu di Bogor itu disampaikan oleh pihak kepolisian.
Ia mengatakan bahwasanya pada saat kejadian, Herlina sedang melayani pembeli di warungnya, ditemani oleh seorang saksi bernama Bangun, yang tengah berbelanja.
Bangun menjadi saksi kunci dalam peristiwa mengerikan tersebut.
Menurut penuturan Kapolsek Cileungsi, Kompol Wahyu Maduransyah, tiba-tiba Aipda Nikson mendorong tubuh ibunya hingga terjatuh ke lantai warung.
Tanpa rasa belas kasihan, Nikson yang tampak kalap kemudian mengambil tabung gas elpiji melon (3 kg) dan menghantamkan tabung itu ke kepala ibunya.
Nikson tidak berhenti setelah sekali pukul. Dia mengayunkan tabung gas tersebut sebanyak tiga kali hingga ibunya terkapar.
Bangun, yang menyaksikan kekerasan tersebut, ketakutan dan langsung melarikan diri.
Setelah beberapa saat, ia kembali bersama temannya Hotbin untuk mengecek kondisi Herlina.
Mereka menemukan sang ibu tergeletak tak berdaya di warung.
Segera, Herlina dilarikan ke RS Kenari, namun nyawanya tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.
Setelah peristiwa itu, Aipda Nikson melarikan diri menggunakan mobil pikap.
Namun, kekacauan kembali terjadi saat ia memarkir kendaraan di tengah jalan raya, tepatnya di depan RS Hermina Cileungsi, sebelum berjalan kaki menuju sebuah kafe.
Aksi pelarian Nikson berakhir ketika petugas Polsek Cileungsi, bersama Polres Bogor dan Polres Bekasi, berhasil menangkapnya. (lz)
Editor : Laila Zakiya