SOLOBALAPAN.COM - Kasus penembakan yang menewaskan Gamma Rizkynata Oktavandy (GRO), pelajar SMKN 4 Semarang, terus memicu perhatian publik.
Tagar #JusticeForGamma menjadi viral di media sosial X (sebelumnya Twitter), seiring munculnya dugaan bahwa polisi mencoba memanipulasi bukti di tempat kejadian perkara (TKP).
Karyawan sebuah minimarket dekat lokasi penembakan mengungkap bahwa sejumlah polisi mendatangi minimarket sebanyak dua kali pada Minggu dan Senin, 24 dan 25 November 2024.
Dalam kunjungan tersebut, polisi mengambil rekaman CCTV yang terpasang di depan dan atas minimarket.
Hal ini disampaikan oleh Reza, seorang karyawan minimarket tersebut.
Reza juga mengaku sempat melihat rekaman CCTV selama 20 detik.
Dalam video itu, tidak terlihat adanya tawuran gangster atau kreak, seperti yang diklaim sebelumnya oleh Kapolrestabes Semarang.
"Kalau tawuran tidak ada. Hanya pria yang menghadang orang lewat," kata Reza, dikutip dari akun X @Pandugaid, Rabu, 27 November 2024.
Menurutnya, rekaman hanya menunjukkan seorang pria yang menaiki motor matik, turun di tengah jalan, dan menyerang beberapa orang yang lewat dengan celurit.
Senada dengan pengakuan Reza, Amsori, takmir Masjid Al-Amin yang berada di seberang minimarket, juga mengungkapkan bahwa polisi mengambil rekaman CCTV dari masjidnya.
Amsori mengaku baru dua kali mengetahui adanya tawuran di sekitar lokasi, termasuk kejadian yang menewaskan Gamma.
"Polisi juga ke masjid untuk ambil kamera CCTV," ungkap Amsori.
Pengambilan rekaman CCTV oleh polisi ini memicu kecurigaan publik, terutama dengan munculnya bukti yang bertentangan dengan narasi tawuran gangster.
Warganet pun ramai-ramai mempertanyakan kejujuran aparat dalam menangani kasus ini. Tagar #JusticeForGamma terus menggema, menuntut transparansi dan keadilan bagi korban.
Sementara itu, teman-teman serta guru dari korban mengatakan bahwa GRO selama ini dikenal tak pernah terafiliasi dengan kreak atau tawuran. (lz)
Editor : Laila Zakiya