SOLOBALAPAN.COM – Tragedi berdarah kembali terjadi di Madura, kali ini akibat perbedaan pilihan politik dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Sampang 2024.
Insiden carok brutal di Desa Ketapang Laok, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, tidak hanya memakan korban jiwa tetapi juga memicu pertanyaan besar: siapa calon bupati yang menjadi pusat perdebatan ini?
Video insiden carok berdarah ini viral di media sosial, memperlihatkan momen mengerikan ketika sekelompok orang mengacungkan celurit—senjata tradisional khas Madura—dan menyerang korban secara brutal.
Dalam video berdurasi 11 detik yang diunggah akun X @Lone_Lynx__, tampak sekitar 10 pria dewasa mengincar korban dengan senjata tajam.
“DUKA PILKADA SAMPANG. Nyawa tidaklah sepadan dengan hanya selembar kertas. Terjadi carok di Sampang Ketapang Madura,” tulis akun tersebut.
Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sampang, terdapat dua pasangan calon (paslon) dalam kontestasi Pilbup Sampang 2024:
1. Paslon Nomor Urut 1: Muhammad bin Mu’afi Zaini dan Abdullah Hidayat
- Didukung koalisi 8 partai: Partai Hanura, PAN, Partai Golkar, PPP, Partai Demokrat, PDIP, PBB, dan PSI.
2. Paslon Nomor Urut 2: Slamet Junaidi dan Ahmad Mahfudz
- Didukung oleh 5 partai: Partai NasDem, PKS, PKB, Partai Gerindra, dan Partai Gelora.
Penetapan kedua paslon ini berdasarkan Keputusan KPU Kabupaten Sampang Nomor 805 Tahun 2024 yang disahkan pada 22 September 2024.
Baca Juga: Rekening Valhalla Diblokir Gegara Kasus Ivan Sugianto: Pemilik Protes, 'Kami Bukan Bandar Judol!'
Namun, kontestasi politik ini justru menjadi pemicu konflik yang memakan korban jiwa.
Carok yang terjadi pada Minggu (17/11/2024) bermula dari perdebatan panas antara pendukung kedua kubu.
Perselisihan ini memuncak hingga berujung pada pengeroyokan dan pembacokan terhadap seorang warga yang berbeda pandangan politik.
“Seorang warga di Madura jadi korban pengeroyokan dan pembacokan oleh sekelompok orang hingga meninggal dunia,” ungkap akun X @bacottetangga__.
Suasana mencekam semakin terasa dengan terdengarnya teriakan histeris dari warga sekitar yang menyaksikan kejadian tersebut.
Kejadian ini memicu reaksi keras dari masyarakat Madura dan warganet. Banyak yang mengecam tindakan brutal tersebut, terutama karena alasan perbedaan pilihan politik.
“Belain poliTIKUS sampai membunuh itu tindakan bodoh,” cuit akun X @jumadi097, menyuarakan kekecewaan atas fanatisme politik yang tidak beralasan.
Bagi sebagian masyarakat, carok sudah dianggap sebagai tradisi yang mendarah daging di Madura.
Namun, insiden yang memakan korban jiwa hanya karena perbedaan politik dinilai sudah melampaui batas.
“Sudah seperti hari biasanya gitu memang,” ujar akun X @Achmadimusoffaa, menyoroti betapa seringnya kekerasan seperti ini terjadi. (lz)
Editor : Laila Zakiya