SOLOBALAPAN.COM - Polemik mengenai donasi untuk Agus Salim, korban penyiraman air keras, masih terus berlanjut.
Terbaru, harapan Agus Salim untuk menerima bantuan uang sebesar Rp 1,3 miliar yang telah digalang dari para donatur kini semakin tipis.
Agus Salim tampaknya harus gigit jari terkait dana donasi yang dikumpulkan oleh Pratiwi Noviyanthi (Teh Novi).
Hal itu karena baru-baru ini, Pratiwi membuka sebuah polling untuk para donatur yang berisikan tiga opsi pilihan mengenai nasib dana tersebut.
Hal ini diungkapkan dalam unggahan TikTok milik Teh Novi pada Minggu, 17 November 2024, di mana ia mengajak para donatur untuk memilih melalui tautan yang ia bagikan.
Polling yang sama juga diumumkan oleh Denny Sumargo melalui kanal YouTube miliknya, yang menayangkan rekaman mediasi antara kuasa hukum Agus Salim dan pihak Pratiwi Noviyanthi, yang mengelola yayasan penggalangan dana tersebut.
Denny Sumargo dalam unggahannya menyampaikan bahwa donatur yang telah menyumbang lewat platform "Curhat Bang" bisa menggunakan tautan polling untuk menentukan nasib donasi mereka.
Dalam unggahannya, Denny menulis, "Untuk para donatur yang sudah berdonasi kepada Agus Salim lewat Curhat Bang, silahkan kalian TENTUKAN DONASI KALIAN DI LINK BERIKUT INI."
Di dalam polling tersebut, terdapat tiga opsi yang bisa dipilih oleh donatur:
- Penyerahan dana kepada Agus Salim sesuai dengan permintaan kuasa hukumnya, Farhat Abbas.
- Pemberian dana kepada orang lain yang lebih membutuhkan.
- Pengembalian dana kepada donatur.
Hanya donatur yang dapat mengisi polling ini, karena mereka diminta untuk mengirimkan bukti transfer sebagai verifikasi.
hingga artikel ini ditulis, tercatat ada 545 donatur yang telah berpartisipasi dalam polling ini.
Dari total tersebut, hanya 9 donatur yang memilih untuk menyerahkan dana kepada Agus Salim, dengan total donasi yang dihimpun mencapai Rp 1.208.000.
Sementara itu, 266 donatur lainnya memilih untuk mendonasikan uang tersebut kepada pihak yang lebih membutuhkan, dengan total nilai donasi sebesar Rp108.274.485.
Sedangkan 88 donatur memilih untuk uang mereka dikembalikan, yang totalnya mencapai Rp19.466.000.. Sebanyak 182 data donatur lainnya tercatat sebagai tidak valid.
Pada deskripsi polling, tercatat bahwa donasi dikumpulkan atas ajakan dari Pratiwi Noviyanthi dan yayasan yang ia kelola, dengan tujuan awal untuk mendukung pengobatan mata Agus Salim.
Selain itu, dinyatakan bahwa jika ada donatur yang tidak memberikan tanggapan, dana yang tersisa akan diserahkan kepada instansi Dinas Sosial yang berwenang.
Tautan polling tersebut juga dijelaskan bahwa diawasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, untuk memastikan transparansi.
Kondisi mental Agus Salim kini semakin memburuk setelah uang donasi sebesar Rp 1,3 miliar yang dihimpun oleh yayasan ditahan.
Akibatnya, Agus Salim merasa sangat tertekan dan bahkan menolak untuk menjalani operasi yang sudah dijadwalkan.
Ia lebih memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Aceh.
Kondisi ini diungkapkan oleh kuasa hukumnya, Farhat Abbas, dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di kediamannya, kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Menurut Farhat, kliennya tersebut sangat terpengaruh oleh situasi yang menimpanya.
"Agus sudah ingin pulang ke Aceh. Dia stres dan menolak untuk dioperasi," kata Farhat, menambahkan bahwa ia harus memaksa Agus untuk tetap menjalani operasi.
"Saya bilang padanya, 'Kamu harus operasi'," lanjut Farhat.
Farhat juga menjelaskan bahwa stres yang dialami Agus Salim bukan disebabkan oleh masalah keuangan, melainkan oleh terus-menerusnya hujatan dari publik.
Agus dituduh menggunakan uang donasi untuk membayar utang rumah dan belanja online, hal yang memicu banyak komentar negatif dari orang-orang.
"Sebetulnya, bukan karena masalah uang, tapi karena dia terus dihina. Makanya tadi malam saya tunjukkan matanya Agus, 'Lihat, ini matanya buta, dia tidak bohong'," ungkap Farhat.
Kuasa hukum Agus Salim juga mengimbau kepada netizen agar tidak lagi mencaci maki kliennya.
Farhat menekankan bahwa Agus Salim adalah sosok yang sering mengaji dan mendoakan para donatur yang telah memberikan bantuannya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo